ECB Desak Percepatan Peluncuran Euro Digital untuk Kurangi Ketergantungan pada Teknologi Asing
Pada tanggal 6 Februari, Bank Sentral Eropa (ECB) mendesak Uni Eropa (UE) untuk segera mempercepat peluncuran euro digital, sambil memperingatkan tentang meningkatnya ketergantungan benua tersebut pada sistem pembayaran dari "raksasa teknologi" asing.
Berbicara di sebuah acara di Siprus, Piero Cipollone, anggota Dewan Eksekutif ECB, berpendapat bahwa penundaan dalam proses legislatif berisiko mengganggu peluncuran euro digital. Ia menyatakan bahwa hal ini akan meningkatkan ketergantungan Uni Eropa pada sistem kartu pembayaran internasional dan solusi pembayaran dari perusahaan teknologi di luar Eropa.
Bapak Cipollone tidak menyebutkan nama perusahaan teknologi asing tertentu. Namun, kekhawatiran tentang ketergantungan Uni Eropa yang besar pada perusahaan teknologi Amerika semakin meningkat, di tengah memburuknya hubungan antara benua Eropa dan AS di bawah Presiden Donald Trump.
Uni Eropa telah mempelajari kelayakan penerapan euro digital sejak tahun 2020. Januari lalu, puluhan ekonom menandatangani surat terbuka yang menyatakan bahwa hal itu merupakan "perlindungan penting bagi kedaulatan Eropa." Para pendukung berpendapat bahwa mata uang digital yang terpadu dan dirancang dengan baik akan memungkinkan warga Eropa untuk melakukan pembayaran online tanpa bergantung pada perusahaan kartu atau sistem pembayaran AS.
Bank Sentral Eropa (ECB) berencana meluncurkan program percontohan euro digital pada tahun 2027. Parlemen Eropa diharapkan akan memutuskan tahun ini apakah akan melanjutkan proyek tersebut.
Namun, bank-bank di Uni Eropa kini khawatir bahwa euro digital dapat melemahkan permintaan terhadap layanan perbankan online yang sudah ada. Beberapa bank telah meluncurkan sistem pembayaran mereka sendiri, seperti Wero, untuk bersaing dengan platform AS seperti Visa, Mastercard, dan PayPal.




