Banyak Pekerja, Namun Kualitas Lapangan Kerja Masih Rendah
Sumber Foto: Liputan6.com
Sosial

Banyak Pekerja, Namun Kualitas Lapangan Kerja Masih Rendah

Liputan6.com, Jakarta - Lapangan pekerjaan masih terus dicari berbagai kelompok masyarakat termasuk pekerja yang sudah memiliki pekerjaan. Ekonom Center of Reform on Economic (CORE), Yusuf Rendi Menilet melihat belum banyaknya lapangan kerja yang berkualitas. Yusuf mengatakan, meski banyak lapangan kerja, tapi penyerapannya paling banyak dari sektor informal. Sehingga dinilai belum stabil memberikan pendapatan kepada pekerjanya.

"Soal lapangan kerja, saat ini penyerapan memang terjadi, tetapi mayoritas masih berada di sektor informal dengan produktivitas dan upah yang rendah," ungkap Yusuf saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (8/2/2026).

Asal tahu saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia tercatat sebanyak 7,35 juta orang per November 2025. Angka ini turun sekitar 0,11 persen dari Agustus 2025. Selain itu, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah orang bekerja mencapai 147,91 juta dari total 155,27 juta orang angkatan kerja.

Belum berkualitasnya lapangan kerja tadi tak begitu mengubah struktur sosial di masyarakat. Alhasil, masih banyak orang yang sudah bekerja tapi tetap miskin.

"Ini membuat pekerjaan belum sepenuhnya menjadi alat mobilitas sosial. Banyak orang bekerja, tetapi tetap miskin. Tantangannya bukan sekadar menyediakan pekerjaan, melainkan menyediakan pekerjaan yang stabil, produktif, dan bernilai tambah agar pengurangan kemiskinan bisa berkelanjutan dan merata," tutur Yusuf.

Prabowo Sadar Rakyat Butuh Pekerjaan

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto nampak jengkel terhadap demonstrasi yang berujung kerusuhan. Dia menyadari banyaknya protes mengenai kebutuhan lapangan pekerjaan.

Prabowo menyadari kebutuhan pekerjaan itu. Namun, dia menegaskan kalau pihak-pihak datang dengan protes, maka lapangan kerja itu tidak dapat dihadirkan.

"Kita semua paham rakyat kita butuh pekerjaan tapi kalau kita teriak-teriak kita mencela-mencela, menghardik-menghardik, gak akan tercipta," ungkap Prabowo dalam Taklimat Presiden RI pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin, 2 Februari 2026.

Tolak Demo Rusuh

Dia masih membuka ruang untuk demonstrasi. Tapi di sisi lain, dia turut menduga ada pihak yang sengaja ingin membuat demo menjadi rusuh.

"Sedikit-sedikit mau demo, demo boleh tapi dia tidak berharap demo, dia berharap kerusuhan, dan kerusuhan itu mencelakakan bangsa dan negara," ucapnya.

"Saudara-saudara, kerusuhan mencelakakan bangsa dan negara, bakar-bakar bom molotov, saya katakan itu membahayakan, itu pidana saya tidak ragu-ragu," dia menambahkan.

Tak Ada Pabrik Buka Jika Demo Terus

Prabowo menegaskan lagi, demo yang berujung rusuh tidak akan membuka lapangan pekerjaan baru.

"Kalau demo silahkan, tapi mau bagaimana, mau demo kamu 5.000 kali demo tidak akan ada satu pabrik dibuka," tegasnya.

Kepala Negara kembali menduga kalau demo rusuh yang terjadi erat dengan adanya kepentingan asing. "Jadi kelompok-kelompok ini sadar atau tidak sadar saya yakin mereka dikendalikan oleh kekuatan asing, yakin saya, yakin saya dan saya punya bukti dan saya menghimbau mereka, hai hai warga negara Indonesia apakah kau tidak kasihan sama rakyatmu?," ujar dia.