Akar Paragraf: Toko Buku Independen yang Menghidupkan Literasi di Era Digital
Di tengah maraknya buku bajakan dan buku digital, Akar Paragraf hadir sebagai ruang kecil yang menjaga keberadaan buku tetap bernafas. Toko buku independen ini didirikan oleh Fahri Dwi Heldiansyah, seorang anak muda dari Parung, Bogor.
Akar Paragraf lahir dari hobi membaca serta melihat peluang jarangnya Generasi Z atau Gen Z yang menjadikan buku sebagai komoditas usaha. Kecintaan terhadap buku mengarah pada keputusan untuk membuka usaha buku sebagai bentuk ikhtiar bertahan di dunia literasi. Tanpa modal yang banyak, Akar Paragraf berdiri pada Mei 2025.
“Dimulai dari tekad dan niat serta berangkat dari hobi. Saya hanya punya keberanian karena tidak punya banyak modal,” kata Fahri.
Niat awalnya membuka usaha ini sejak Februari 2025, tetapi setelah proses pematangan konsep, Akar Paragraf baru berdiri dua bulan kemudian. Meski baru seumur jagung, buku yang di jual cukup bervariatif mulai dari filsafat, sejarah, novel, buku anak untuk melatih motorik bacaan, hingga bacaan historis bertema keagamaan. Akar Paragraf juga mulai merambah ke dunia olahraga dengan memulai menjual buku-buku sejarah sepak bola di Inggris.
Dalam menjangkau pembaca, Akar Paragraf tidak hanya menjual melalui media sosial seperti Instragram. Fahri kerap membuka lapak pop-up di berbagai acara seperti konser musik, talkshow, hingga bazaar atau pop market. Segmentasi pembelinya di dominasi oleh kalangan Gen Z, serta millenial dan Gen Alpha.
Karena belum memiliki label sendiri, dalam penyediaan bukunya Akar Paragraf masih membeli buku-buku dari beberapa penerbit. Meskipun begitu, keinginan untuk memiliki penerbit independen sendiri masih menjadi harapan panjangnya.
“Kita masih mencoba membeli dari penerbit-penerbit seperti Marjin Kiri, Shira Media, EA Book, Mojok, Narasi, dsb. Mohon doanya kita ingin mempunyai label sendiri yang independen,” jelasnya.
View this post on Instagram
afilliate marketplace masih menjadi pekerjaan rumah baginya. Keterbatasan waktu karena usaha yang dijalankan sambil bekerja membuat pengelolaan pemasaran masih belum maksimal.
“Tantangan paling signifikan itu masalah memahami perubahan pembaca di era sekarang. Karena kita masih belajar, di segmentasi pasarnya pun kita masih mencoba beradaptasi,” tambahnya.
Fahri berharap terdapat perhatian lebih dari pemerintah terhadap dunia literasi, terutama terkait harga buku di Indonesia yang dinilai masih relatif mahal. Menurutnya, di sejumlah negara Eropa dan Asia Timur, harga buku bisa lebih terjangkau karena kebijakan pajak yang lebih murah.
“Semoga saja ada evaluasi baru dari pemerintahan untuk bisa lebih dekat dengan masyarakat dalam metode penjualan buku ini. Karena buku sendiri adalah jendela ilmu, siapa tahu dari hal-hal tersebut bisa juga mencerdaskan potensi bangsa,” harapnya.
Google News)




