Tantangan Infrastruktur dan Lingkungan Jabodetabek di Awal 2026
Sumber Foto: Mureks
Sorotan Utama

Tantangan Infrastruktur dan Lingkungan Jabodetabek di Awal 2026

Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) memasuki awal tahun 2026 dengan sejumlah tantangan krusial, terutama di sektor lingkungan hidup dan infrastruktur. Masalah banjir, kualitas udara yang memburuk, serta krisis ekologis yang berulang menjadi perhatian utama, di tengah upaya pemerintah menggenjot pembangunan transportasi massal dan proyek strategis lainnya.

Ancaman Banjir dan Rob Masih Menghantui

Ibu Kota Jakarta dan wilayah sekitarnya masih terus dihantui ancaman banjir dan rob. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah mengambil berbagai langkah mitigasi, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC) yang diperpanjang hingga awal Februari 2026 untuk menekan intensitas hujan ekstrem. Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim, menjelaskan bahwa OMC dilakukan secara intensif, bahkan hingga tiga kali sehari, untuk mengurangi volume curah hujan pemicu banjir.

Selain itu, Pemprov DKI juga mengoptimalkan ratusan pompa air dan infrastruktur pengendali banjir di titik-titik rawan, serta menggenjot normalisasi sekitar 185 sungai dan 15 waduk. Target penyelesaian normalisasi sebagian besar sungai utama seperti Ciliwung, Kali Krukut, dan Cakung Lama adalah Maret 2026. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa curah hujan ekstrem di atas 150 milimeter per hari menjadi pemicu utama meluasnya genangan.

Khusus di Jakarta Utara, antisipasi banjir rob menjadi prioritas. Wali Kota Jakarta Utara, Hendra Hidayat, menyatakan bahwa penguatan sistem tata air akan menjadi fokus utama sepanjang tahun 2026, termasuk pembangunan infrastruktur tata air oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta.

Kualitas Udara Jakarta di Titik Kritis

Masalah kualitas udara di Jakarta masih menjadi sorotan tajam. Pada awal Februari 2026, situs pemantau IQAir mencatat kualitas udara Jakarta menempati peringkat keempat terburuk di dunia dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) 175, dan kadar partikel halus PM2.5 masuk kategori tidak sehat. Sebelumnya, pada awal Januari 2026, Jakarta juga sempat menduduki peringkat keenam terburuk di dunia.

Menanggapi kondisi ini, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan tiga strategi utama. Pertama, perluasan layanan bus Transjabodetabek untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi. Kedua, percepatan pembangunan Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat yang ditargetkan beroperasi pertengahan tahun ini. Ketiga, Gubernur Pramono Anung mengajak masyarakat memanfaatkan transportasi publik, termasuk layanan gratis bagi 15 golongan masyarakat.

Proyek Transportasi Massal Terus Dikebut

Pembangunan infrastruktur transportasi massal di Jabodetabek terus menunjukkan kemajuan signifikan. Progres konstruksi MRT Jakarta Fase 2A (Bundaran HI-Kota) telah mencapai 55,89 persen hingga akhir Desember 2025, dengan target penyambungan terowongan pada Agustus 2026. Paket kontrak CP201 yang mencakup Stasiun Thamrin dan Monas bahkan telah mencapai 91,16 persen.

Selain itu, proyek MRT Lintas Timur–Barat (East–West Line) yang akan menghubungkan Medan Satria, Bekasi, hingga Tomang, Jakarta Barat sepanjang sekitar 25 kilometer, akan dimulai pembangunannya pada tahun 2026. Proyek ini merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ditargetkan beroperasi pada tahun 2031. PT MRT Jakarta (Perseroda) juga mengembangkan kawasan Transit Oriented Development (TOD), termasuk pembangunan dek pejalan kaki melingkar di area Dukuh Atas.

Sementara itu, proyek LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome-Manggarai sepanjang 6,4 kilometer dengan lima stasiun juga terus dikebut. Progres pengerjaan telah mencapai 77,96 persen pada November 2025, lebih cepat dari target, dan ditargetkan rampung pada Agustus 2026, dengan pengujian dan komisioning dijadwalkan pada kuartal ketiga 2026. Kebijakan ganjil genap di Jakarta juga kembali diberlakukan pada Rabu, 18 Februari 2026, setelah libur Imlek.

Ekonomi Jakarta Optimistis, Krisis Ekologis Mengkhawatirkan

Di tengah berbagai tantangan, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Jakarta berpeluang tumbuh lebih tinggi, yaitu 4,7 persen hingga 5,5 persen secara tahunan pada tahun 2026. Proyeksi ini didukung oleh penyaluran kredit dan inflasi yang terkendali. Optimisme serupa juga datang dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang meyakini konsumsi rumah tangga selama Imlek dan Ramadan akan mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 di angka 5,5 persen.

Pemprov DKI Jakarta juga tengah menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) DKI Jakarta Tahun 2026–2046. Dokumen ini diharapkan menjadi arah kebijakan strategis untuk memastikan Jakarta tetap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional pascapemindahan ibu kota negara.

Namun, di sisi lain, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyoroti krisis ekologis akut di Jabodetabek. WALHI mencatat serangkaian insiden pencemaran berulang pada air, limbah domestik, dan aktivitas industri dari tahun 2020 hingga awal 2026. Contohnya, Kali Bekasi yang menghitam dan berbau busuk pada tahun 2023, serta seluruh sungai utama Jakarta yang berstatus tercemar berat pada tahun 2024. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, sendiri menargetkan pengelolaan sampah dapat mencapai 64,3 persen pada tahun ini dan berupaya mengakhiri praktik TPA open dumping.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk Jabodetabek hingga 20 Februari 2026, dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.