Monetisasi Hobi Berburu Promo: Resolusi Finansial Realistis untuk 2026
Sumber Foto: Marketing.co.id
Lifestyle

Monetisasi Hobi Berburu Promo: Resolusi Finansial Realistis untuk 2026

Marketing.co.id – Berita Financial Services | Di tengah berbagai resolusi finansial yang kerap gagal karena membutuhkan modal besar atau keahlian khusus, tren baru justru menunjukkan pendekatan yang lebih sederhana dan realistis: memonetisasi hobi. Salah satunya adalah berburu promo di eCommerce yang kini terbukti bisa menjadi sumber penghasilan signifikan berkat pertumbuhan creator economy.

Model afiliasi eCommerce menjadi salah satu penggerak utama tren ini. Laporan Google, Temasek, dan Bain 2025, mencatat bahwa social commerce dan konten kreator memainkan peran kunci dalam akselerasi ekonomi digital Asia Tenggara. Sementara menurut Populix 2024, 59% konsumen Indonesia tercatat pernah berbelanja melalui tautan afiliasi, menandakan tingginya kepercayaan publik terhadap rekomendasi berbasis komunitas.

Salah satu kisah yang mencerminkan potensi tersebut datang dari Anita Ratnasari, lulusan manajemen yang berhasil meraih komisi Rp100 juta pertamanya hanya dalam empat bulan melalui Lazada Affiliate. Berangkat dari hobi berburu diskon, Anita membuktikan bahwa aktivitas yang selama ini dianggap sekadar “hemat belanja” dapat berkembang menjadi sumber pendapatan yang serius.

“Awalnya saya hanya ingin menyalurkan hobi dan mencari penghasilan tambahan untuk membantu orang tua. Namun Lazada Affiliate menyediakan infrastruktur dan peluang yang sangat mendukung. Kuncinya adalah konsistensi dan membangun kepercayaan dengan audiens,” ujar Anita.

Keberhasilan Anita sejalan dengan komitmen Lazada dalam memperkuat ekosistem afiliasi di Indonesia. Lazada mengalokasikan investasi tahunan sebesar USD 100 juta untuk memberdayakan mitra afiliasi, mulai dari content creator, ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga profesional, agar dapat memonetisasi pengaruh mereka di berbagai platform digital.

Head of Business Growth & Operations Lazada Indonesia Amelia Tediarjo menyatakan bahwa penguatan ini dilakukan melalui struktur komisi yang lebih kompetitif, insentif berbasis performa, serta pengembangan fitur yang memudahkan mitra mengoptimalkan potensi penghasilan.

“Kami berkomitmen membangun ekosistem afiliasi yang inklusif dan berkelanjutan. Mitra seperti Anita menunjukkan bahwa peluang ekonomi digital terbuka luas bagi siapa saja yang mau memulai,” kata Amelia.

Dalam perjalanannya, Anita merangkum lima strategi praktis yang kini menjadi rujukan banyak afiliator pemula. Mulai dari membangun “kolam” audiens sendiri melalui Telegram dan WhatsApp, menjadi pemburu promo terdepan untuk menciptakan efek FOMO, hingga menggunakan copywriting yang menekankan urgensi. Ia juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan dengan membagikan bukti pembelian serta memberikan hacks belanja agar audiens merasa mendapat nilai lebih.

Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai relevan dengan kondisi ekonomi saat ini, ketika masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang dan lebih mengandalkan rekomendasi yang autentik.

Melihat pertumbuhan creator economy yang semakin pesat, Lazada juga memperluas peluang monetisasi melalui kolaborasi dengan platform video, termasuk YouTube Affiliate Program yang memungkinkan transaksi langsung dari konten kreator ke penonton.

Kisah Anita Ratnasari menandai pergeseran narasi “mencari uang di internet” dari sesuatu yang rumit menjadi peluang yang dapat dimulai dari aktivitas sehari-hari. Di awal 2026, hobi berburu promo tak lagi sekadar cara berhemat, melainkan bisa menjadi resolusi finansial paling realistis bagi banyak orang Indonesia.