Menulis: Panggilan Jiwa di Tengah Tantangan Finansial
Sumber Foto: Kompasiana.com
Lifestyle

Menulis: Panggilan Jiwa di Tengah Tantangan Finansial

MENGAPA SAYA TETAP MENULIS MESKI TIDAK DAPAT CUAN YANG SEPADAN?

Oleh Idris Apandi, Penulis 1100-an Artikel dan 58 Buku

Ada satu pertanyaan yang sering muncul, baik dari orang lain maupun dari dalam diri sendiri: mengapa masih menulis, padahal tidak menghasilkan uang yang sepadan? Di tengah zaman yang serba cepat, serba visual, dan serba bisa dimonetisasi, menulis memang kerap tampak sebagai aktivitas yang "kurang menjanjikan". Namun justru di situlah letak jawabannya: menulis bagi saya bukan sekadar soal cuan, melainkan soal panggilan jiwa.

Saya menulis karena sudah jatuh hati. Tidak ada kontrak, tidak ada paksaan, tidak ada target finansial yang membelenggu. Menulis hadir lebih dulu sebagai passion, lalu perlahan menjelma menjadi hobi. Ada rasa rindu ketika tidak menulis, ada kegelisahan yang menuntut disalurkan melalui kata-kata. Menulis menjadi ruang pribadi tempat saya menyusun pikiran, merapikan emosi, dan berdamai dengan diri sendiri.

Lebih dari itu, menulis adalah sarana berbagi. Ide, gagasan, pengalaman hidup, kegundahan, bahkan kegembiraan. Semuanya menemukan rumah di dalam tulisan. Saat sedih, menulis menjadi terapi. Saat gelisah, menulis menjadi katarsis. Ada kepuasan batin yang tidak bisa diukur dengan angka, tidak bisa ditukar dengan uang. Kepuasan itu hadir saat tulisan selesai, saat hati terasa lebih ringan, dan saat ada satu dua pembaca yang merasa "terwakili" oleh apa yang saya tulis.

Menulis juga memaksa saya untuk terus belajar. Saya percaya, tidak mungkin menulis dengan baik jika malas membaca. Maka membaca dan menulis menjadi dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Membaca buku, artikel, berita, atau hasil penelitian. Semuanya memperkaya sudut pandang. Bahkan, bukan hanya membaca teks, tetapi juga "membaca" kehidupan: peristiwa sehari-hari, fenomena sosial, realitas pendidikan, dan dinamika manusia. Banyak penelitian menyebutkan bahwa membaca dan menulis menjaga daya pikir agar tetap tajam. Bagi saya, keduanya juga menjaga kewarasan.

Di era dominasi video pendek berdurasi 30 detik, tulisan memang kalah pamor. Algoritma lebih ramah pada visual bergerak, pada konten yang cepat dikonsumsi dan cepat dilupakan. Namun justru di situlah keunggulan tulisan. Tulisan memberi ruang kedalaman. Tulisan tidak dibatasi durasi sempit. Tulisan memungkinkan sebuah persoalan dibedah secara utuh, runtut, dan reflektif. Video pendek sering kali hanya menghasilkan informasi dangkal, bahkan sepotong-sepotong. Tulisan, sebaliknya, menuntut kesabaran, baik dari penulis maupun pembaca. Dan hanya mereka yang tidak mudah bosan serta mau belajar secara mendalam yang bersedia membaca, bahkan mengulanginya agar benar-benar paham.

Saya juga sadar, secara ekonomi, menulis tidak lagi seperti dulu. Menulis artikel di koran yang dulu masih berhonor, kini sering kali hanya berujung "dimuat tanpa bayaran". Banyak media cetak kolaps, beralih ke format digital, atau sekadar bertahan hidup. Menulis di blog atau media warga pun tidak menjanjikan. Insentifnya kecil, kadang terasa tidak sebanding dengan tenaga dan waktu yang dicurahkan. Saya pernah merasakan pahitnya: menulis berdarah-darah selama berbulan-bulan, dengan pembaca yang tidak sedikit, tetapi reward yang diterima hanya cukup untuk membeli dua mangkuk bakso. Rasanya nyesek.

Di titik itu, keinginan untuk berhenti menulis sempat muncul. Mogok. Menyerah. Namun setiap kali ingat tujuan awal menulis untuk berbagi ide, gagasan, dan pengalaman, rasa kesal itu perlahan luruh. Semangat menulis pun tumbuh kembali. Saya menulis bukan karena disuruh, bukan karena dituntut. Semua atas kesadaran sendiri. Maka orientasi utama saya bukan uang. Jika pun ada honor, saya anggap sebagai bonus, bukan tujuan.

Menariknya, rezeki ternyata datang dengan cara lain. Bukan langsung dari media tempat saya memosting tulisan, tetapi melalui pengakuan. Ketika nama mulai dikenal, ketika tulisan dinilai mencerminkan kompetensi dan kepakaran, undangan pelatihan, IHT, workshop, seminar, dan webinar berdatangan. Tidak semuanya berhonor, memang. Ada juga yang murni berbagi karena keterbatasan anggaran. Namun di sanalah saya belajar: menulis mungkin tidak langsung menghasilkan cuan, tetapi ia membangun reputasi. Dan reputasi itulah yang kelak membuka pintu rezeki dalam berbagai bentuk.

Selain itu, menulis menghadirkan rezeki lain yang tak kalah berharga: relasi dan jaringan. Dari tulisan, saya bertemu banyak orang dengan kegelisahan dan semangat yang sama. Jaringan ini perlahan memberi dampak pada perjalanan karier dan pengembangan diri.