Fhisty: Silat Sebagai Jalan Hidup dan Pengabdian
Sumber Foto: RRI.co.id
Lifestyle

Fhisty: Silat Sebagai Jalan Hidup dan Pengabdian

RRI.CO.ID, Jakarta – Fhisty Fitri Mu’izz Maghfirah atau akrab disapa Fhisty, lahir di Padang Panjang pada 8 Juli 2000. Perempuan Gen Z berdarah suku Koto ini merupakan anak keempat dari empat bersaudara, putri dari Azhari Fitri, seorang pensiunan sekaligus mahaguru perguruan silat, dan Hartati Haryati, ibu rumah tangga. Lulusan Sarjana Administrasi Negara dari STIA Adabiah Padang ini tumbuh dalam lingkungan keluarga pesilat yang menjadikan silat bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup yang mengalir sejak dini.

Sejak baru bisa berdiri, Fhisty sudah diperkenalkan pada kuda-kuda silat oleh sang ayah. Ketika anak seusianya bermain boneka, ia justru ditempa dengan latihan fisik dan mental. Fhisty mengatakan.

“Bagi saya, silat bukan hanya sekadar hobi, tapi sudah mendarah daging,” ujarnya.

Kedisiplinan juga diterapkan ketat dalam keseharian, dengan jadwal yang menuntut keseimbangan antara latihan, ibadah, dan akademik sejak usia sekolah dasar", ujar Fhisty, disaat di wawancara melalui sambugan telp dalam acara Apresiasi Budaya Minangkabau, Minang Bakaba Lamak Didanga. Rabu malam, (04/02/2026).

Perjalanan prestasi Fhisty dimulai dari silat tradisi berpasangan hingga silat prestasi. Di usia 12 tahun, ia mencatat prestasi membanggakan pada ajang POPDA Sumatera Barat dengan meraih tiga medali dari empat kategori yang diikuti. Prestasi berlanjut di O2SN tingkat SMP, dengan dua medali emas tingkat provinsi dan satu perunggu tingkat nasional. Meski aktif di berbagai bidang seni dan hobi lainnya, fokus dan ketekunan di dunia silat terus ia jaga.

Baca Juga : https://rri.co.id/jakarta/hiburan/2154836/sanggar-gambang-kromong-jaga-budaya-betawi

Saat menempuh perkuliahan di Aceh, Fhisty dihadapkan pada pilihan besar ketika mendapat panggilan seleksi Pra-PON. Ia memilih pulang dan mengikuti seleksi, meski harus meninggalkan kuliah yang telah dijalani dua semester. Tidak terpilih di provinsi asal, Fhisty mencoba peruntungan di provinsi tetangga dan berhasil mengamankan tiket menuju PON XXI Papua.

“Perjalanan ini tidak mudah, apalagi saya sempat mengalami cedera sebelum Pra-PON, namun saya belajar untuk tetap percaya diri,” katanya.

Cedera kembali dialami di kemudian hari hingga harus menjalani operasi bahu, namun semangatnya tak pernah padam.

Kini, Fhisty memilih kembali mengabdi pada perguruan dan mengajar pencak silat di sejumlah sekolah di Kota Padang Panjang. Ia berharap dapat melahirkan generasi pesilat yang lebih baik dan berkarakter. Petuah orang tua yang selalu ia pegang teguh adalah.

“Samuik tapijak indak mati, alu tataruang patah tigo,” sebagai pengingat untuk tegas dalam kebenaran tanpa menyakiti yang lemah. Silat adalah warisan nilai. Kita belajar mengendalikan diri sebelum mengendalikan lawan. Untuk generasi muda, khususnya anak Minang, tetaplah berprestasi tanpa melupakan tradisi. Silek adalah permainan anak nagari yang wajib dilestarikan,” ujarnya.