Latar Media - JAKARTA KOMPAS.com - Di balik ramainya tren mengoleksi blind box di kalangan generasi muda, para pakar mengingatkan adanya risiko perilaku konsumsi impulsif apabila hobi tersebut tidak diimbangi pengelolaan keuangan dan kontrol diri.
Sensasi kejutan saat membuka kotak misterius serta peluang memperoleh karakter langka membuat sebagian pembeli terdorong membeli berulang kali meski pengeluarannya terus bertambah.
Perencana keuangan Rista Zwestika menilai, tren blind box menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumsi masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurut dia, masyarakat kini tidak lagi membeli semata-mata berdasarkan kebutuhan, melainkan juga mengejar pengalaman dan kepuasan emosional yang muncul ketika membuka kotak misterius tersebut.
"Fenomena blind box menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat dari membeli berdasarkan kebutuhan (need-based consumption) menjadi membeli berdasarkan pengalaman (experience-based consumption) dan kepuasan emosional," kata Rista saat dihubungi Kompas.com, Selasa (7/7/2026).
Ia mengatakan, bagi banyak anak muda, yang dibeli bukan hanya figur koleksi, melainkan juga sensasi kejutan saat membuka kemasan, kesenangan berburu karakter tertentu, hingga rasa memiliki komunitas dengan hobi yang sama.
Deretan blind box berbagai tema memenuhi rak penjualan di salah satu gerai mainan di Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2027)
Dari sisi perilaku keuangan, menurut Rista, fenomena ini dipengaruhi mekanisme psikologis yang dikenal sebagai variable reward.
Seseorang tidak mengetahui hasil yang akan diperoleh sehingga muncul dorongan untuk mencoba kembali.
"Mekanisme seperti ini mampu memicu pelepasan dopamin yang membuat aktivitas membeli terasa menyenangkan dan berpotensi diulang," ujar dia.
Rista menegaskan, selama pembelian dilakukan secara sadar, terencana, dan sesuai kemampuan finansial, blind box masih dapat dipandang sebagai bentuk hiburan atau hobi.
Namun, ketika keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi emosi daripada pertimbangan keuangan, masyarakat perlu lebih waspada agar tidak terjebak dalam perilaku konsumtif.
Pengeluaran kecil yang bisa membengkak
Rista menjelaskan, salah satu risiko terbesar dari pembelian blind box secara impulsif adalah kebocoran anggaran yang kerap tidak disadari.
Nominal pembelian satu kotak memang terlihat kecil, tetapi jika dilakukan berulang kali dalam satu bulan, akumulasi pengeluaran dapat menjadi cukup besar dan mengganggu alokasi kebutuhan lain.
"Risiko utamanya adalah kebocoran anggaran yang sering kali tidak disadari karena nominal pembelian terlihat kecil. Satu pembelian mungkin tidak berdampak signifikan, tetapi jika dilakukan berulang kali dalam sebulan, total pengeluaran dapat menjadi cukup besar dan mengganggu alokasi kebutuhan yang lebih penting," kata dia.
Ia mengatakan, perilaku impulsif juga berpotensi menghambat pencapaian tujuan keuangan, mulai dari membangun dana darurat, investasi, hingga menabung untuk pendidikan dan pensiun.
Pada sebagian orang, kebiasaan tersebut bahkan dapat mendorong penggunaan kartu kredit maupun layanan buy now pay later (BNPL) hanya demi memenuhi keinginan sesaat.
"Hobi boleh saja dinikmati, tetapi idealnya berasal dari pos anggaran hiburan yang memang sudah disiapkan, bukan mengorbankan kebutuhan pokok maupun tujuan keuangan jangka panjang," ujar Rista.
Rista juga melihat popularitas blind box tidak hanya dipengaruhi nilai barang yang dibeli.
Menurut dia, keputusan membeli sering kali dipengaruhi faktor psikologis, sosial, dan emosional yang sama besarnya dengan pertimbangan ekonomi.
Blind box menawarkan kombinasi rasa penasaran, tantangan mendapatkan edisi langka, kepuasan saat berhasil melengkapi koleksi, hingga pengaruh media sosial yang membuat aktivitas tersebut menarik untuk dibagikan.
Di sisi lain, komunitas kolektor turut menciptakan rasa kebersamaan dan identitas sosial yang memperkuat minat untuk terus membeli.
Selain itu, strategi pemasaran berupa kelangkaan produk (scarcity), edisi terbatas (limited edition), dan ketidakpastian isi kemasan dinilai mampu meningkatkan keinginan membeli karena konsumen merasa memiliki peluang memperoleh barang yang lebih bernilai dibanding harga yang dibayarkan.
Karena itu, Rista menilai fenomena blind box layak mendapat perhatian, terutama dari sisi edukasi konsumen dan perlindungan anak.
Menurut dia, blind box merupakan produk legal dan menjadi bagian dari industri kreatif.
Namun, karena mengandung unsur ketidakpastian yang dapat memicu pembelian berulang, diperlukan transparansi mengenai peluang memperoleh setiap karakter, batasan pemasaran kepada anak-anak, serta edukasi mengenai pengelolaan keuangan.