Latar Media - Menurut Reuters dan AFP, Presiden Prancis Emmanuel Macron tiba di Suriah pada 6 Juli, menjadi kepala negara pertama dari Uni Eropa (UE) yang mengunjungi Damaskus sejak Presiden Bashar al-Assad digulingkan pada tahun 2024.
Di bandara Damaskus, Macron disambut oleh Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Al-Shaibani. Menurut jadwal yang diumumkan oleh Istana Elysee, pemimpin Prancis itu akan menghadiri makan malam kerja dengan Presiden Ahmed al-Sharaa sebelum melanjutkan pembicaraan pada tanggal 7 Juli.
Kunjungan ini menunjukkan upaya Suriah untuk membangun kembali hubungan dengan Barat, seiring negara tersebut memprioritaskan rekonstruksi pasca perang saudara.
Membangun kembali Suriah juga menjadi tema utama kunjungan pemimpin Prancis tersebut. Dalam perjalanan ini, ia didampingi oleh para pemimpin perusahaan besar seperti TotalEnergies dan perusahaan pelayaran kontainer CMA CGM.
Sumber-sumber diplomatik mengindikasikan bahwa Prancis dan Suriah diperkirakan akan membahas kontra-terorisme dan peningkatan hubungan diplomatik. Saat ini, Prancis hanya memiliki kuasa usaha sementara untuk Suriah.
Tahun lalu, Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa bertemu dengan Macron di Prancis selama kunjungan pertamanya ke negara Eropa sejak penggulingan Assad.
Macron dipandang sebagai salah satu suara terkemuka yang menyerukan kepada Barat untuk mencabut sanksi terhadap Suriah.
Pada Mei 2025, Uni Eropa mencabut sanksi ekonomi terhadap Suriah, kecuali sanksi yang menargetkan anggota rezim Assad sebelumnya dan sanksi yang diberlakukan karena alasan keamanan.
Dalam sebuah wawancara yang disiarkan di BFMTV pada malam tanggal 6-7 Juli, Presiden al-Sharaa memuji peran "konstruktif" Prancis dalam proses transisi.
"Bapak Macron telah berupaya untuk bekerja sama dengan kami dan mengikuti dengan saksama setiap tahap proses transisi di Suriah," katanya, sambil juga berterima kasih kepada Prancis atas kontribusinya terhadap pencabutan sanksi terhadap Suriah.