Swasty Purworini: Dari Hobi Memasak Menjadi Sukses Bisnis Ratu Roti Madiun
Lifestyle

Swasty Purworini: Dari Hobi Memasak Menjadi Sukses Bisnis Ratu Roti Madiun

Latar Media - RRI.CO.ID, Madiun – Berawal dari hobi memasak dan keinginan mengisi waktu luang, Swasty Purworini berhasil membangun bisnis bakery yang kini dikenal luas dengan brand Ratu Roti Madiun. Usaha ini telah dirintis selama kurang lebih 10 tahun dan terus berkembang hingga memiliki pelanggan setia.

Nama “Ratu Roti” sendiri ternyata memiliki makna personal. Swasty mengungkapkan bahwa nama tersebut diambil dari nama putrinya, Ratu Nismara. Dari nama itu, terselip harapan agar bisnis yang dirintisnya bisa menjadi besar dan sukses di masa depan.

Perjalanan bisnis Swasty dimulai dari skala kecil. Ia memproduksi kue untuk keluarga dan tetangga. Seiring waktu, pesanan mulai berdatangan setelah ia memanfaatkan media sosial, khususnya Facebook, untuk memasarkan produknya. Salah satu produk yang sempat booming di awal adalah bomboloni, yang bahkan sudah ludes terjual sebelum matang.

“Awalnya saya hanya coba-coba, tapi ternyata responsnya bagus. Dari situ berkembang ke produk lain seperti bolu, brownies, hingga kue tart,” ujarnya.

Dalam menjalankan usahanya, Swasty mengandalkan metode belajar otodidak. Ia rutin mencari referensi resep melalui Instagram dan YouTube, serta melakukan trial and error. Bahkan, untuk menyempurnakan satu resep bolu, ia membutuhkan waktu hingga enam bulan.

Menurutnya, kunci utama dalam membuat kue tidak hanya pada teknik, tetapi juga kondisi psikologis. “Kalau hati tidak senang, itu sangat berpengaruh ke hasil. Jadi harus masak dengan perasaan happy,” katanya.

Dari sisi bisnis, Swasty memilih strategi harga terjangkau dengan menyasar pasar menengah. Produk bolu tulban yang dijual mulai dari Rp6.000 menjadi salah satu andalan, selain brownies seharga Rp20.000 dan berbagai varian lain. Meski murah, ia tetap menjaga kualitas bahan tanpa pengawet.

Keberhasilan Ratu Roti Madiun tidak lepas dari konsistensi dan keberanian menghadapi tantangan. Salah satu momen sulit terjadi saat pandemi COVID-19, ketika ia masih fokus pada roti basah yang hanya bertahan satu hari. Kondisi tersebut membuat banyak produk terbuang, hingga akhirnya ia beralih ke produk bolu yang lebih tahan lama.

“Dari situ saya belajar mengubah strategi. Alhamdulillah setelah fokus ke bolu, pesanan hampir selalu ada setiap hari,” ungkapnya.

Dalam operasionalnya, Swasty dibantu satu hingga dua karyawan saat permintaan meningkat. Namun, proses utama pembuatan kue tetap ia tangani sendiri untuk menjaga konsistensi rasa.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya inovasi dan mengikuti tren pasar. Produk bolu tulban dan bolen menjadi contoh inovasi yang berhasil menarik minat konsumen, terutama saat Ramadan untuk kebutuhan takjil dan hampers.

Selama satu bulan terakhir saja, penjualan bolu tulban telah menembus lebih dari 1.000 unit. Bahkan, untuk pesanan dalam jumlah besar seperti acara pernikahan, ia mampu memproduksi hingga 500–600 kue dalam waktu dua hari.

Swasty juga membagikan pelajaran penting dari kesalahan yang pernah dialami, seperti produk kue kering yang sempat berjamur akibat proses yang kurang maksimal. Dari pengalaman tersebut, ia semakin teliti dalam menjaga kualitas produksi.

Ke depan, Swasty menargetkan pengembangan usaha melalui penambahan peralatan seperti oven dan memperluas outlet yang saat ini berada di kawasan Jalan Tanjung Raya, Madiun.

“Yang penting terus belajar, jangan cepat puas, dan tetap semangat menghadapi persaingan,” tutupnya.

Kisah Swasty menjadi bukti bahwa bisnis bisa tumbuh dari hobi sederhana, asalkan dijalankan dengan konsistensi, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar.

You can share this post!