Warga Pining Terisolasi Empat Bulan Akibat Jembatan Putus
Nasional

Warga Pining Terisolasi Empat Bulan Akibat Jembatan Putus

Latar Media - SERAMBINEWS.COM, BLANGKEJEREN - Sudah hampir empat bulan warga di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues (Galus), hidup dalam kondisi terisolasi akibat putusnya jembatan utama yang menjadi akses vital penghubung antarwilayah.

Jembatan tersebut rusak parah diterjang banjir dan hingga kini belum dibangun kembali secara permanen.

Putusnya infrastruktur itu berdampak langsung pada aktivitas masyarakat.

Transportasi hasil pertanian terhambat, distribusi kebutuhan pokok tersendat, hingga pelayanan kesehatan terganggu karena akses yang sulit dilalui, terutama saat debit sungai meningkat.

Kondisi paling memprihatinkan terjadi ketika ada warga yang meninggal dunia.

Masyarakat terpaksa menggotong jenazah menyeberangi sungai karena tidak ada jembatan yang dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki dengan aman.

Dian (41), seorang warga Pining, mengatakan situasi tersebut sudah berlangsung berbulan-bulan.

“Kami tetap berusaha memberikan pelayanan kesehatan, termasuk imunisasi anak-anak. Tapi aksesnya sangat sulit, apalagi kalau air sungai naik,” ujarnya kepada Serambinews.com, Sabtu (28/2/2026).

Menurutnya, jembatan darurat sempat dibangun secara swadaya bersama personel TNI dari jajaran Kodam Iskandar Muda.

Namun, konstruksi sederhana itu tidak mampu bertahan lama akibat derasnya arus sungai.

Hal senada disampaikan Kader (32 tahun), guru Sekolah Dasar menerangkan, putusnya jembatan berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat.

Hasil kebun sulit dibawa keluar desa, sementara kebutuhan pokok harus didatangkan dengan cara terbatas dan berisiko.

“Kalau hujan deras, kami tidak berani menyeberang. Tapi kalau ada warga meninggal atau ada yang sakit, terpaksa harus lewat juga,” paparnya.

Selama empat bulan terakhir, warga Pining merasakan langsung dampak minimnya infrastruktur yang memadai.

You can share this post!