Latar Media - Uni Eropa tengah mempertimbangkan penundaan peluncuran Sistem Informasi dan Otorisasi Perjalanan Eropa (ETIAS) akibat kesulitan yang dihadapi dengan sistem imigrasi elektronik (EES) yang ada.
ETIAS direncanakan beroperasi tahun ini, mirip dengan sistem ESTA di Amerika Serikat, yang mengharuskan warga negara bebas visa untuk mendaftar secara online sebelum memasuki Uni Eropa. Sekitar 1,4 miliar orang, termasuk warga negara Inggris dan Amerika, diwajibkan untuk mengajukan permohonan dengan biaya €20 dan menjalani pemeriksaan keamanan sebelum perjalanan.
Diskusi mengenai penundaan ETIAS muncul seiring dengan masalah yang dihadapi Uni Eropa terkait implementasi EES, yang memerlukan pemindaian sidik jari dan gambar wajah bagi warga negara non-UE. Antrean panjang di bandara dan perbatasan darat terjadi akibat peluncuran yang lambat dan gangguan teknis. Eu-LISA, badan yang bertanggung jawab atas ETIAS, mengakui bahwa pengoperasian sistem sebelum akhir tahun ini tidak memungkinkan. Pertemuan dewan manajemen eu-LISA pada pertengahan Juni membahas kemungkinan penundaan, dengan pertemuan selanjutnya dijadwalkan pada bulan September untuk mendiskusikan jadwal baru.
ETIAS masih menghadapi sejumlah masalah teknis, dan sumber terkait menyatakan bahwa Uni Eropa perlu menyelesaikan masalah EES sebelum menerapkan sistem baru, agar tidak memperburuk kemacetan di perbatasan. Komisi Eropa berwenang menentukan waktu mulai operasional ETIAS, tetapi keputusan tersebut bergantung pada penyelesaian pengujian sistem oleh eu-LISA. Komisioner Urusan Dalam Negeri Uni Eropa, Magnus Brunner, mengindikasikan bahwa keterlambatan terkait dengan EES juga disebabkan oleh kekurangan staf dan infrastruktur yang tidak memadai di beberapa negara anggota. Penundaan peluncuran ETIAS mencerminkan kehati-hatian Uni Eropa setelah masalah yang dialami dengan EES, dengan tantangan tidak hanya pada keamanan perbatasan tetapi juga pada kelancaran arus orang selama musim puncak pariwisata.