Toxic Productivity: Tantangan Budaya Komunikasi Digital yang Perlu Diatasi
Sumber Foto: Humas Indonesia
Teknologi

Toxic Productivity: Tantangan Budaya Komunikasi Digital yang Perlu Diatasi

Share post

Komunikasi yang terus-menerus tanpa henti telah menghapus batas antara ruang kerja dan ruang privat. Foto: Pexels/Anna Tarazevich

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Ziya Ibrizah menegaskan, perlu adanya kerja kolektif untuk mengubah budaya komunikasi digital di organisasi dan masyarakat. Menurutnya, harus ada aturan yang jelas tentang jam kerja dan jam komunikasi.

YOGYAKARTA, HUMASINDONESIA.ID - Di tengah perkembangan teknologi digital yang memudahkan komunikasi, tak sedikit orang yang merasa harus terus produktif dan terhubung. Kondisi yang dikenal dengan istilah toxic productivity ini, kata dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Ziya Ibrizah, sedikit banyak didorong oleh praktik komunikasi digital yang berlebihan.

Padahal, terang Ziya dalam artikel opininya di laman Times Indonesia, Jumat (11/4/2025), komunikasi digital awalnya dirancang untuk memudahkan interaksi. Hanya saja, dalam perkembangannya inovasi tersebut justru mendorong banyak individu ke dalam jurang burnout karena adanya pergeseran paradigma “selalu terhubung”. “Pergeseran paradigma tersebut telah mengaburkan batas antara kehidupan profesional dan personal,” tulisnya

Pernyataan Ziya diperkuat dengan laporan International Labour Organization (ILO) dan WHO pada tahun 2022, yang mengungkap lebih dari 745.000 orang di seluruh dunia meninggal setiap tahun akibat jam kerja berlebihan, dengan sebagian besar kasus berasal dari pekerjaan berbasis digital.

Di Indonesia, fenomena toxic productivity tak kalah mengkhawatirkan. Survei Populix tahun 2023 mencatat, sebanyak 68 persen pekerja usia 25-40 tahun mengalami stres akibat beban kerja digital yang tidak kunjung berhenti, terutama karena tuntutan untuk terus online di luar jam kerja.

Solusi Praktis untuk Komunikasi Digital yang Sehat

Alni Tsabita dkk. dalam penelitian Tren Toxic Productivity Sebagai Gejala Terjadinya Burnout Syndrome Terhadap Prestasi Akademik pada Remaja Rentang Usia 18-23 Tahun di Kota Bandung (2023) menyebut, media sosial sebagai tempat penerimaan konten-konten yang diekspresikan seseorang dan dikonsumsi oleh remaja usia produktif, telah menimbulkan motivasi bagi individu untuk menghasilkan sesuatu yang sama atau lebih dari orang lain. Hal tersebut karena adanya ketakutan tertinggal atau fear of losing moment (FOMO). Persepsi tersebut yang kemudian menjadi gerbang toxic productivity.

Sebagai solusi, beberapa perusahaan di Eropa saat ini telah menerapkan right to disconnect atau hak karyawan untuk tidak menjawab komunikasi pekerjaan di luar jam kerja. Pendekatan itu terbukti mampu menurunkan stres dan meningkatkan produktivitas jangka panjang.

Secara umum, toxic productivity bukan hanya masalah individu, melainkan tantangan sistemik yang membutuhkan perubahan budaya komunikasi digital. Langkah konkret yang perlu dijajaki adalah menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa offline bukan berarti malas, dan diam bukan berarti tidak berkontribusi.

Ziya menandaskan, tanpa batasan dan empati dalam komunikasi digital, yang didapat bukanlah efisiensi, melainkan generasi pekerja dengan kelelahan mental kolektif. "Harus ada aturan yang jelas tentang jam kerja dan jam komunikasi," tutupnya. (ARF)

Share post

Tentang Penulis

LATEST POST

One Voice, One Vision: Resep Artajasa Jaga Reputasi di Tengah Ancaman Siber

Berita, 20 Februari 2026

Awards

Best Presenter PRIA 2026: Kemampuan Presentasi Jadi Kunci Keberhasilan Strategi Komunikasi

Agenda, 19 Februari 2026

Awards

Insan PR PRIA 2026: Kepiawaian Individu Penentu Kesuksesan Reputasi Organisasi

Agenda, 19 Februari 2026

Awards

Pemenang PRIA 2026: Menangkan Kepercayaan, Bukan Hanya Kejar Jangkauan

Agenda, 18 Februari 2026