Studi Remotivi Soroti Dominasi Pemberitaan Anies di Koran Tempo, Diduga Dipengaruhi Bias Jakarta
Remotivi melakukan penelitian untuk mengevaluasi imparsialitas pemberitaan Koran Tempo terkait calon kandidat presiden 2024. Kajian ini dilakukan atas permintaan Ombudsman Tempo yang pada sekitar April menghubungi Remotivi untuk membantu memantau pemberitaan media tersebut.
Penelitian menganalisis 219 berita Koran Tempo yang terbit pada periode 1 Oktober 2020 hingga 31 Maret 2021 dan memuat satu atau lebih nama kandidat yang dirujuk dari survei Indikator Politik Indonesia (IPI). Enam nama yang digunakan adalah Anies Baswedan (15,2%), Ganjar Pranowo (13,7%), Ridwan Kamil (10,2%), Sandiaga Uno (9,8%), Prabowo Subianto (9,5%), dan Agus Harimurti Yudhoyono (4,1%).
Metode: Mengukur imparsialitas lewat alokasi ruang dan pembingkaian
Dalam penelitian ini, imparsialitas didefinisikan sebagai sikap tanpa bias dan prasangka. Dalam kajian media, Remotivi menilai imparsialitas melalui dua aspek utama: alokasi ruang dan pembingkaian berita.
Untuk memetakan kedua aspek tersebut, sejumlah variabel digunakan, antara lain:
- Framing (bingkai berita)
- Rubrik tempat berita dimuat
- Tone atau nada berita (positif, negatif, netral)
- Bentuk kemunculan kandidat (misalnya di judul, lead, kutipan langsung, parafrase, atau sekadar disebut)
- Cakupan dimensi berita (nasional, lokal, antar-lokal)
Temuan utama: Anies paling sering muncul dan menonjol di sejumlah rubrik
Dari 219 berita yang ditelusuri, Remotivi menemukan Anies Baswedan menjadi kandidat yang paling dominan dalam beberapa aspek, termasuk frekuensi kemunculan, bentuk penonjolan, dominasi ruang pada rubrik tertentu, serta ketidaksesuaian cakupan dimensi berita.
Anies tercatat muncul dalam 103 berita. Di posisi kedua ada Ridwan Kamil yang muncul dalam 56 berita. Empat kandidat lainnya tidak muncul dalam lebih dari 30 berita. Remotivi menilai perbedaan ini menunjukkan distribusi ruang yang tidak proporsional, bukan dalam arti harus merata untuk semua kandidat, melainkan dengan melihat konteks kemunculan, rubrik, isu yang menyertai, dan bentuk penonjolan.
Penonjolan juga terlihat dari besarnya ruang untuk pernyataan Anies dan Ridwan Kamil, yang paling banyak dikutip secara langsung maupun diparafrase. Jumlah pernyataan keduanya disebut sekitar dua kali lipat lebih banyak dibanding empat kandidat lainnya.
Rubrik Metro dan Berita Utama: Jakarta menjadi pusat perhatian
Dominasi Anies tampak kuat di rubrik Metro yang berfokus pada wilayah Jabodetabek. Dari 219 berita yang dianalisis, 92 berasal dari rubrik Metro. Di rubrik ini, Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta menjadi yang paling banyak diberitakan, disusul Ridwan Kamil dan Sandiaga Uno.
Remotivi mencatat liputan Metro banyak berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menangani pandemi Covid-19, pembangunan infrastruktur di Jakarta, hingga demonstrasi Omnibus Law di pusat kota.
Meski sudah dominan di Metro, Anies juga paling banyak muncul di rubrik Berita Utama yang berfungsi sebagai tajuk utama dan memuat berita prioritas redaksi. Dominasi Anies di rubrik ini mendorong Remotivi menelusuri dimensi cakupan berita untuk menilai kelayakan sebuah isu masuk tajuk utama.
Cakupan berita: Banyak tajuk utama berdimensi lokal dan terkait Anies
Remotivi membagi cakupan dimensi berita menjadi tiga kategori: nasional, lokal, dan antar-lokal. Menurut kajian ini, berita tajuk utama idealnya memuat isu berskala nasional agar relevan bagi pembaca di seluruh Indonesia, bukan hanya wilayah tertentu.
Dalam rubrik Berita Utama, Remotivi menemukan banyak berita berdimensi lokal. Dari 12 berita berdimensi lokal, 11 di antaranya memunculkan nama Anies. Remotivi menyimpulkan berita-berita tersebut terutama relevan bagi pembaca Jakarta, sementara Koran Tempo juga sudah memiliki rubrik Metro yang wilayah liputannya sesuai untuk isu lokal Jabodetabek.
Sementara itu, kemunculan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di rubrik Berita Utama disebut terkonsentrasi pada periode polemik Partai Demokrat (2 Februari hingga 15 Maret 2021) dan dinilai berskala nasional karena melibatkan aktor tingkat pusat atau organisasi nasional. Berbeda dengan Anies, Ridwan Kamil disebut mayoritas muncul dalam berita berdimensi nasional, dengan hanya satu berita berdimensi lokal.
Nada dan bingkai berita: Minim positif-negatif, dominan kebijakan
Untuk membaca potensi bias atau favoritisme, Remotivi juga menilai pengemasan berita melalui nada (tone) dan bingkai (frame). Nada diklasifikasikan menjadi positif, negatif, dan netral berdasarkan pelekatan kata sifat atau kata kerja tertentu pada kandidat. Namun, Remotivi mencatat berita bernada positif maupun negatif terdeteksi sangat sedikit; mayoritas cenderung netral.
Temuan ini dinilai mencerminkan gaya jurnalisme Tempo yang lugas dan berfokus pada aspek kebijakan, dengan kalimat-kalimat pendek yang padat informasi atau data. Dalam hal bingkai, berita berbingkai kebijakan disebut jauh lebih banyak dibanding bingkai human interest.
Kesimpulan: Antara bias Anies atau bias Jakarta
Remotivi menyimpulkan besarnya frekuensi pemberitaan Anies dibanding kandidat lain serta kecenderungan cakupan yang lokal membuat sulit mengabaikan adanya semacam favoritisme terhadap Anies. Namun, kajian ini menyebut ada dua kemungkinan penyebab: bias terhadap Anies atau bias terhadap Jakarta.
Kemungkinan bias dukungan politik kepada Anies dinilai tidak didukung data yang memadai karena nada pemberitaan umumnya netral dan berbingkai kebijakan. Remotivi juga mencatat, meski Anies sering muncul, pemberitaan tentang Anies dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga banyak memuat kritik.
Karena itu, Remotivi menyatakan lebih cenderung melihat persoalan sebagai bias Jakarta, yang dikaitkan dengan model bisnis Koran Tempo yang sangat berbasis Jakarta. Salah satu indikasinya adalah basis pembaca yang disebut mayoritas berasal dari Jakarta (28,3%), jauh di atas Surabaya dan Yogyakarta yang berada di posisi berikutnya (9,7% dan 7,2%). Remotivi juga menyoroti faktor operasional media yang berpusat di Jakarta serta wartawan yang mayoritas berdomisili di Jakarta, yang dinilai dapat mendorong siapa pun Gubernur DKI Jakarta menjadi aktor pemberitaan favorit.
Remotivi menutup laporan dengan menegaskan bahwa bias, apa pun dasarnya, tidak sejalan dengan prinsip jurnalisme. Jika media memosisikan diri sebagai ruang publik yang mewakili sebanyak mungkin kepentingan masyarakat, perubahan dinilai ideal untuk ditempuh.




