Latar Media - Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dengan PT Hutama Karya (Persero) menginisiasi penerapan ekonomi sirkular dalam pembangunan jalan tol untuk mendukung infrastruktur hijau di Indonesia. Hal ini menjadi fokus dalam Webinar Nasional bertajuk Circular Economy in Infrastructure yang diselenggarakan secara daring.
Webinar yang diadakan pada 7 Juli ini mengumpulkan lebih dari 1.700 peserta dari berbagai daerah, termasuk akademisi, pemerintah, dan pelaku industri. Diskusi bertujuan untuk mengeksplorasi strategi pemanfaatan material daur ulang dalam menghadapi tantangan pembangunan infrastruktur yang masif.
Kepala Pustral UGM, Dr. Ir. Dewanti, M.S., menekankan pentingnya sektor infrastruktur bertransformasi menuju ekonomi sirkular untuk mengurangi limbah dan mempertahankan nilai sumber daya. Sementara itu, Dr. Ir. Alfa Adib Ash Shiddiqi dari Kementerian Pekerjaan Umum menjelaskan bahwa pemerintah mendukung pemanfaatan material alternatif yang ramah lingkungan, dengan syarat memenuhi standar mutu dan keselamatan. Direktur Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, menambahkan bahwa limbah plastik dan ban bekas dapat dimanfaatkan dalam konstruksi jalan, sehingga sektor infrastruktur turut berkontribusi menyelesaikan masalah sampah nasional.
PT Hutama Karya (Persero) sudah mulai menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera. Direktur Operasi III, Iwan Hermawan, menjelaskan inovasi yang diterapkan melalui pilar keberlanjutan, termasuk penggunaan material lokal dan teknologi ramah lingkungan. Dosen UGM, Taqia Rahman, mempresentasikan hasil riset tentang efektivitas material daur ulang yang menunjukkan potensi peningkatan karakteristik fisik aspal. Diskusi interaktif yang dipandu oleh Kayyisa Fitri menghasilkan rekomendasi strategis untuk pengembangan kebijakan konstruksi yang lebih berkelanjutan, menekankan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam penerapan ekonomi sirkular untuk mencapai target Indonesia Hijau 2045.