Latar Media - Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR) sering kali dipersepsikan sebagai upaya perusahaan semata. Namun, jurnalisme memiliki peran strategis dalam menjembatani informasi terkait program-program ini kepada publik, dengan fokus pada kepentingan masyarakat.
Pandangan ini disampaikan dalam diskusi daring yang diadakan pada Senin (8/6/2026) oleh Fransiskus Sudiarsis, Anggota Komite Tanggungjawab Perusahaan Platform Digital Untuk Jurnalisme Berkualitas. Ia menekankan bahwa jurnalisme dan CSR memiliki titik temu yang sama, yaitu masyarakat.
Fransiskus menjelaskan bahwa media dan perusahaan beroperasi di atas fondasi yang sama. Perusahaan melaksanakan program CSR untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, sementara media bertugas menyampaikan, mengawasi, dan mengedukasi publik mengenai dampak program-program tersebut. Ia menggarisbawahi bahwa tantangan utama adalah anggapan bahwa CSR hanya berkaitan dengan kepentingan perusahaan, sehingga program-program ini sering kali tidak mendapatkan perhatian publik yang memadai. Untuk itu, jurnalisme perlu mengangkat isu CSR ke ruang publik yang lebih luas.
Fransiskus merinci tiga misi utama dalam peliputan CSR. Misi pertama adalah mengungkap duduk persoalan, di mana media berperan sebagai penghubung antara perusahaan dan masyarakat. Misi kedua adalah mendorong apresiasi dan evaluasi terhadap inisiatif CSR, agar dapat berkembang lebih baik. Misi ketiga mencakup pengukuran dampak nyata dari program CSR terhadap masyarakat, dalam aspek sosial, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan. Dengan jurnalisme berkualitas, inisiatif sosial perusahaan dapat diketahui publik, dievaluasi, dan didorong untuk menghasilkan perubahan yang lebih besar dan berkelanjutan.