Latar Media - Insiden itu bermula ketika pemain tenis wanita Panna Udvardy (peringkat 95 dunia) menerima pesan pemerasan yang mengerikan melalui WhatsApp tepat sebelum turnamen di Turki.
Orang asing itu mengaku mengetahui alamat rumahnya, nomor plat kendaraannya, dan nomor telepon kerabatnya. Mereka juga mengirimkan foto pistol untuk menekannya agar kalah dalam permainan tersebut.
Udvardy mengungkapkan bahwa ia merasa sangat ngeri dengan pelanggaran privasi yang serius dan terancamnya keselamatan orang tuanya.
Yang lebih mengkhawatirkan, ini bukan insiden terisolasi. Kurang dari 24 jam sebelumnya, pemain tenis wanita Lucrezia Stefanini menghadapi situasi serupa saat berpartisipasi dalam babak kualifikasi turnamen Indian Wells.
Saat ini, para pemain tenis menduga bahwa data pribadi mereka telah bocor dari basis data Asosiasi Tenis Wanita (WTA). Oleh karena itu, mereka menuntut penyelidikan menyeluruh untuk melindungi keselamatan para atlet.
Segera setelah menerima informasi tersebut, WTA dan pasukan polisi setempat menerapkan langkah-langkah keamanan yang diperketat.
Di Turki, polisi dikerahkan ke lokasi turnamen dan rumah kerabat Udvardy untuk memberikan perlindungan. Sementara itu, Stefanini juga menerima dukungan maksimal dari penyelenggara Turnamen Indian Wells.
Menyusul insiden ini, komunitas tenis internasional menyerukan kepada WTA untuk mengambil langkah-langkah yang lebih tegas. Ini termasuk tidak hanya keamanan data tetapi juga kerja sama dengan badan keamanan global untuk mencegah skenario serupa di masa mendatang secara menyeluruh.