Latar Media - Kondisi ekonomi kelas menengah Indonesia saat ini mengalami tekanan akibat inflasi dan penurunan daya beli. Namun, di tengah kesulitan ini, masyarakat Indonesia tercatat sebagai yang paling dermawan di Asia Tenggara, menyumbangkan rata-rata 1,55% dari pendapatannya, menurut World Giving Report (WGR) 2026.
Dalam situasi ekonomi yang tidak stabil, solidaritas sosial masyarakat Indonesia justru semakin meningkat. Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Mudrajad Kuncoro, menjelaskan bahwa faktor keagamaan berperan penting dalam meningkatkan budaya berbagi melalui infak, zakat, dan sedekah.
Contoh solidaritas ini terlihat pada mahasiswa diaspora Indonesia di London yang menggelar aksi “Jumat Berkah”, yang menunjukkan kepedulian sosial meski berada jauh dari tanah air. Mudrajad juga menyoroti nilai-nilai spiritual yang mengakar di masyarakat Indonesia, seperti pengalaman selama ibadah puasa yang menumbuhkan kepekaan sosial terhadap masalah kemiskinan, bencana, pendidikan, dan kesehatan.
Walaupun budaya berbagi ini menjadi benteng ketahanan sosial di tengah badai ekonomi, Mudrajad mengingatkan bahwa pemerintah tidak boleh mengabaikan perlambatan ekonomi. Ia mengkritik ketimpangan distribusi kesejahteraan yang semakin lebar, di mana hanya segelintir orang yang menikmati pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, ia mendesak pemerintah agar menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Tantangan ke depan bagi lembaga filantropi dan pemerintah adalah mengubah bantuan menjadi upaya yang berkelanjutan, membantu masyarakat untuk mandiri dan memiliki keterampilan yang memadai.