Latar Media - Dalam kelas daring Sekolah Jurnalisme Parboaboa (SJP) yang berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2026, jurnalis senior Ahmad Arif membahas pentingnya jurnalisme bencana di Indonesia. Ia menekankan bahwa bencana seperti banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor terus berulang, dengan ribuan kejadian tercatat setiap tahun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Pembahasan dimulai dengan tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia, yaitu pendeknya ingatan terhadap bencana. Ahmad menjelaskan bahwa sering kali, peristiwa besar yang menarik perhatian publik cepat dilupakan, sementara masalah yang menyebabkannya tetap ada. Ia menegaskan bahwa tugas jurnalis tidak berhenti saat bencana berlalu; liputan harus berlanjut untuk merekam perubahan dan menelusuri penyebabnya.
Ahmad juga menggarisbawahi pentingnya memahami faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam peliputan bencana. Ia mengajak peserta untuk melihat model pembangunan sebelum bencana, guna mengetahui siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan. Selain itu, ia membahas dampak perubahan iklim yang meningkatkan risiko bencana, serta pentingnya perlindungan bagi masyarakat yang tergantung pada sektor rentan.
Isu ketahanan pangan juga menjadi sorotan, di mana gangguan distribusi dan ketergantungan pada komoditas tertentu memperbesar kerentanan masyarakat saat bencana. Ahmad menekankan perlunya liputan jangka panjang untuk mengamati proses pemulihan, termasuk penggunaan dana rekonstruksi dan ketimpangan dalam pemulihan.
Selain itu, Ahmad membahas etika dalam meliput korban bencana, menekankan perlunya pendekatan empati dan pemahaman terhadap kondisi psikologis korban. Ia mengingatkan jurnalis untuk menjaga akurasi informasi, terutama di era jurnalisme warga yang cepat. Keselamatan wartawan selama liputan bencana juga menjadi perhatian utama. Ahmad menekankan bahwa keselamatan harus diutamakan, dan jurnalis perlu mempersiapkan perlengkapan keselamatan serta memahami batas kemampuannya sebelum menjalankan tugas di lokasi berisiko.