Layangan: Hobi Musiman yang Bisa Membahayakan Listrik dan Transportasi
Layangan digemari banyak orang. Selain kegiatan sehari-hari, layangan juga digelar dalam festival. Namun, jika tidak hati-hati terkadang layangan juga membahayakan.
Oleh Demitrius Wisnu Widiantoro
02 Agt 2025 10:01 WIB · Metropolitan
Sebuah berita duka ditayangkan oleh Harian Kompas edisi Selasa 28 Desember 1965 di halaman 2. Berita duka itu berjudul “Karena Lajangan, Djiwa Melajang (Karena Layangan, Jiwa Melayang)”. Di situ diceritakan bagaimana seorang anak perempuan berusia tak lebih dari 11 tahun kehilangan nyawa setelah tersengat aliran listrik dari kawat yang putus. Nasib naas menimpa gadis ini saat ia sedang membantu orangtuanya mencari daun dari tumbuhan di dekat tiang listrik. Belum sempet memetik daun, tubuhnya tersetrum dari kawat listrik yang putus.
Setelah diselidiki, kawat listrik itu putus dan terjulur ke bawah diduga karena gesekan benang layangan. Sebelumnya ada seorang bocah lain yang merapikan benang-benang layangan yang banyak terjulur di jalanan. Tajamnya benang gelasan untuk adu layangan itu diduga menyebabkan kawat listrik putus dan akhirnya membuat bocah lainnya tewas tersetrum.
Satu insiden lain terkait layangan yang hampir membahayakan keselamatan adalah tersangkutnya tali layangan pada sayap pesawat di Lapangan Udara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Berita ini ditayangkan di Harian Kompas edisi Rabu (11/8/1976) di halaman 2. Berita ini menceritakan soal keluhan pilot senior terkait banyaknya permainan layang-layang di sekitar lapangan udara tersebut. Saat itu banyaknya permainan layang-layang sudah dalam kondisi membahayakan aktivitas penerbangan di sana. Bahkan di sayap pesawat yang ia kemudikan pernah tersangkut tali layangan dan hampir mengenai baling-baling.
Kondisi ini dibenarkan oleh seorang insinyur asal Bali. Ia menyatakan bahwa penduduk asli Bali memang senang menaikkan layang-layang berukuran raksasa. Layang-layang ini berukuran lima meter dan mempunyai bentang sayap 2 meter. Untuk menaikkan layang-layang ini perlu tali seukuran dengan jempol tangan. Sebenarnya saat itu larangan menerbangkan layangan di dekat lapangan udara sudah diumumkan namun tidak diindahkan.
Protes serupa terkait kondisi Bandara Ngurah Rai juga dilayangkan oleh Garuda Indonesia dan Merpati pada Januari 1994. Sedangkan di Jakarta, pada medio Agustus 2001, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, sering mendapat komplain dari perusahaan penerbangan dan terancam masuk dalam daftar hitam (black list) karena masalah lingkungan. Pekan lalu Singapore Airlines mengajukan keluhan serius karena di sayap pesawatnya menyangkut layang-layang dan benangnya, yang ketahuan waktu pesawat sedang dalam proses push back.
Agum bereaksi atas laporan Dirut PT AP II Yayoen Wahyoe yang mengatakan bahwa gangguan-gangguan lingkungan dari masyarakat sekitar Bandara masih sering terjadi. "Kebiasaan masyarakat main layang- layang sulit dihilangkan. Mereka sering menaikkan layang-layang besar dan mengikat talinya di pohon kelapa, lalu ditinggal begitu saja sehingga mengganggu penerbangan," katanya.
Saat ini dunia penerbangan sudah relatif terbebas dari gangguan layang-layang. Namun di moda transportasi lain seperti kereta cepat Whoosh, tercatat mengalami 169 kali gangguan layang-layang dalam enam bulan terakhir (per Juli 2025). Gangguan ini menyebabkan perjalanan Whoosh dapat terhenti hingga 50 menit.
General Manager Corporate Secretary Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Eva Chairunisa, Rabu (9/7/2025), mengatakan, pihaknya menggandeng kepolisian di lima wilayah untuk melakukan patroli dan penertiban aktivitas layang-layang di sekitar jalur kereta cepat. Upaya ini untuk menjaga keselamatan dan keamanan operasional kereta cepat Whoosh. KCIC adalah operator Whoosh.
Sejak dahulu layang-layang memang sudah menjadi permainan yang digemari oleh warga. Permainan ini dimainkan oleh banyak warga dari berbagai usia dari anak-anak hingga orang tua. Setiap hari dengan mudah kita jumpai orang bermain layang-layang, terutama selama musim kemarau. Di musim tanpa hujan ini setiap sore di sudut-sudut daerah banyak orang bermain layang-layang, mulai dari aduan atau hanya layang-layang hias yang mempunyai efek suara jika diterbangkan.
Musim kemarau seperti akhir-akhir ini, permainan layangan kembali merebak di berbagai sudut daerah. Setiap sore dengan mudahnya kita jumpai warga dari berbagai usia, terutama anak-anak, bermain layangan. Di lapangan, taman, tempat pemakaman, hingga jalanan dengan mudah kita jumpai mereka.
Di jalanan dengan ramaianya kendaraan, warga dengan santainya menaikkan layangan. Tanpa memedulikan sekitar mereka asyik sendiri menarik benang dan mengendalikan layangan. Terkadang tiba-tiba anak-anak berlari sambil membawa tongkat atau ranting pohon mengejar layangan putus. Klakson panjang dan makin terdengar dari sisi pengemudi kendaraan bermotor.
Sejatinya permainan sejuta umat ini mampu menggerakkan roda perekonomian. Banyaknya warga yang memainkan layangan membuat Banyak orang terlibat agar permainan musiman ini dapat dilakukan. Dari produsen layangan dan benang hingga pedagang ecceran semuanya menangguk untung dari permaianan ini. Lihat saja, saat musim tiba, banyak pedagang musiman layangan yang menjajakan dagangannya. Mereka mejajakan dari layangan biasa hingga layangan hias yang harganya ratusan ribu rupiah per layangan. Belum lagi dengan benang gelasan yang harganya relatif tidak murah.
Selain di kalangan warga biasa, hobi layang-layang juga bisa menghasilkan devisa baagi negara lewat pariwisata. Gelaran festival layang-layang di berbagai daerah di Indonesia bisa menarik wisatawan untuk datang berkunjung. Beberapa daerah yaang relatif rutin menggelar festival layang-layang adalah Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Daerah lain juga tak ketinggalan untuk menggelar agenda pariwisata ini.
Festival layang-layang biasanya digelar di pingir pantai atau lapangan terbuka yang luas. Puluhan peserta yang menyemarakkan acara datang dari berbagai daerah atau negara. Mereka datang membawa layangan dengan aneka bentuk dan ukuran. Birunya langit segera dihiasi dengan warna-warni layang-layang. Besarnya layang-layang membuat sejumlah peserta saling membantu dan bahu-membahu menahan layang-layang agar mereka tidak terbawa terbang.
Hingga kini layang-layang terus mengudara. Bukan saja menjadi kegiatan yang gampang dijumpai pada masa kemarau, namun bermain layangan juga digunakan untuk menarik wisatawan lewat festival. Bermainlah layangan, tetapi jangan lupa, jangan sampai terseret angin…
arsip foto kompas festival layang-layang layangan arsip kompas hobi foto cerita
Kerabat Kerja
Penulis:
Demitrius Wisnu Widiantoro
|
Editor:
Heru Sri Kumoro
|
Foto:
AP Susetyo Wijatmoko
|
Penyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari




