Krisis Air Mengintai di Puncak Kemarau, Akademisi UGM Soroti Lemahnya Kesiapan Infrastruktur
Nasional

Krisis Air Mengintai di Puncak Kemarau, Akademisi UGM Soroti Lemahnya Kesiapan Infrastruktur

Latar Media - Fenomena El Nino yang semakin kuat diprediksi akan memperburuk krisis air di Indonesia, terutama saat puncak musim kemarau antara Juli hingga September. Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati, mengingatkan bahwa kondisi ini tidak hanya akan menyebabkan kekeringan berkepanjangan, tetapi juga mengancam ketahanan pangan akibat meningkatnya risiko gagal panen.

Awal Kejadian

Walaupun beberapa wilayah di Indonesia masih mengalami hujan pada bulan Juli, Dwikorita menekankan pentingnya memanfaatkan momen ini untuk memperkuat cadangan air sebelum puncak kemarau tiba. Dalam webinar yang diselenggarakan pada 18 Juli 2026, ia menyatakan bahwa pemanenan air hujan perlu dilakukan saat hujan masih turun.

Perkembangan

Dwikorita juga mengungkapkan bahwa kesiapan infrastruktur air menjadi kunci dalam menghadapi ancaman kekeringan. Ia berharap embung-embung yang dibangun di berbagai daerah sudah terisi dengan baik sebelum musim kemarau. Selain itu, setiap rumah disarankan untuk memiliki tandon penampung air sebagai cadangan saat pasokan mulai berkurang. Ia mengingatkan pentingnya pemeliharaan pompa air untuk mencegah masalah saat musim kemarau.

Lebih lanjut, ia menyoroti masalah distribusi air yang seringkali menjadi kendala di beberapa wilayah. Meskipun ada cadangan air di bendungan, tidak jarang daerah pertanian mengalami kekeringan akibat sistem irigasi yang tidak berfungsi dengan baik. Dwikorita menegaskan bahwa ancaman krisis air dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan juga oleh lemahnya kesiapan infrastruktur serta pengelolaan sistem irigasi.

Kondisi Terakhir

Tanpa perbaikan infrastruktur yang memadai, ketersediaan air yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian. Dwikorita menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim, serta perlunya edukasi masyarakat untuk menjaga lingkungan dan memanfaatkan air hujan secara efektif. Dosen UGM lainnya, Leni Sophia Heliani, juga menegaskan peran mahasiswa dalam memberikan edukasi mengenai dampak perubahan iklim di masyarakat.

You can share this post!