Latar Media - Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) meluncurkan Buku Saku Panduan Orang Tua mengenai Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) dalam 20 bahasa daerah. Peluncuran ini dilakukan sebagai upaya memperkuat implementasi PP TUNAS dan mendukung literasi digital di seluruh Indonesia.
Peluncuran buku saku ini berlangsung dalam kegiatan “Tunas Indonesia Cakap Digital” yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI, bekerja sama dengan Pusat Kerja Sama Internasional Komdigi dan International Telecommunication Union (ITU). Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 300 peserta, termasuk siswa, kepala sekolah, guru, organisasi internasional, dan pemangku kepentingan lainnya.
Founder Klinik Digital, Devie Rahmawati, menyatakan bahwa penggunaan bahasa daerah dalam program literasi digital bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat. Ia mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan bahasa ibu dapat mempercepat proses belajar. Selain itu, pengembangan dan penerjemahan buku saku dilakukan bersama Klinik Digital, yang merupakan bagian dari Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), untuk memastikan materi literasi digital lebih inklusif dan mudah dipahami.
Sejak 2021, Klinik Digital telah bekerja sama dengan Komdigi dalam berbagai program untuk meningkatkan literasi digital di Indonesia. Salah satu kolaborasi terbesar adalah Program Makin Cakap Digital yang mencapai lebih dari lima juta masyarakat melalui pelatihan dan kampanye literasi digital. Pada 2025, Klinik Digital juga dipercaya mengembangkan modul literasi digital untuk berbagai jenjang pendidikan.
Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, menekankan pentingnya pelindungan anak seiring dengan kemajuan digital. Kegiatan peluncuran buku saku juga mencakup talkshow, workshop, dan berbagai booth edukatif yang melibatkan mitra strategis. Klinik Digital, yang telah menjangkau lebih dari 20.000 peserta sejak didirikan pada 2018, terus berkomitmen untuk mengembangkan ekosistem literasi digital yang menghargai keberagaman bahasa dan budaya di Indonesia.