Keunikan Bahasa Jawa dalam Ekspresi Sindiran dan Ejekan
Sumber Foto: BBC
Konteks Liputan

Keunikan Bahasa Jawa dalam Ekspresi Sindiran dan Ejekan

Bahasa Jawa dikenal sebagai bahasa yang kaya akan kosakata dan memiliki beragam cara untuk mengekspresikan sindiran atau ejekan. Menurut Adi Deswijaya, Dosen Bahasa dan Sastra Jawa di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, makian dalam bahasa Jawa sangat beragam, mencakup nama-nama hewan, buah, status ekonomi, hingga bagian tubuh.

Contohnya, kata 'kere' yang berarti miskin, 'asu' untuk anjing, dan 'wedhus' untuk kambing. Selain itu, ada istilah 'ndeso' yang menunjukkan perilaku yang dianggap kampungan, mirip dengan istilah 'kampungan' dalam bahasa Indonesia. Menurut Adi, penggunaan kata 'ndeso' sering kali memiliki konotasi merendahkan, dan ketika seseorang berkata 'dasar ndeso', itu sudah termasuk ejekan.

Keunikan bahasa Jawa juga terlihat dalam adanya tingkatan bahasa, seperti Ngoko, Kromo, dan Kromo Inggil. Dhanang Respati Puguh, Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, menjelaskan bahwa tingkatan ini menunjukkan kekayaan kosakata bahasa Jawa. Ngoko digunakan dalam pergaulan sehari-hari, Kromo untuk berbicara dengan orang yang lebih tua atau memiliki kedudukan lebih tinggi, dan Kromo Inggil untuk menunjukkan penghormatan lebih.

Lebih lanjut, Dhanang menambahkan bahwa penyebutan benda dalam bahasa Jawa bisa lebih bervariasi dibandingkan bahasa Indonesia. Misalnya, bulir padi disebut 'pari', sedangkan beras kecil disebut 'menir'. Ada juga variasi dalam ekspresi untuk menyatakan kondisi dingin, seperti 'atis' dan 'adem'.

Terkait dengan cara mengeluarkan makian, Dhanang menyatakan bahwa terdapat seni dalam penyampaian kritik atau ungkapan kekesalan sesuai dengan siapa yang diajak bicara. Dalam budaya Jawa, terdapat istilah seperti 'dhupak bujang', 'esem mantri', dan 'semu bupati' yang menunjukkan tingkat formalitas dalam penyampaian kritik.

Misalnya, untuk menyampaikan kritik kepada seorang bupati, cukup dengan isyarat atau pasemon, sedangkan untuk mantri bisa cukup dengan senyuman penuh makna. Namun, untuk kaum kuli, kritik harus disampaikan secara langsung dan eksplisit. Pasemon sendiri merupakan gaya bahasa yang menggunakan simbol dan perbandingan halus, sehingga dapat menyampaikan kritik tanpa menggunakan kata-kata vulgar yang dapat dipahami secara langsung.

Secara keseluruhan, keunikan bahasa Jawa dalam ekspresi sindiran dan makian mencerminkan kekayaan budaya serta cara komunikasi yang penuh makna di dalam masyarakatnya.