Latar Media - Dalam serangan terbaru terhadap infrastruktur Iran, sejumlah negara Arab dilaporkan terlibat mendukung operasi militer Amerika Serikat. Data dari Fars News Agency menunjukkan bahwa keterlibatan ini berpotensi memicu eskalasi konflik di kawasan.
Menurut laporan Fars News pada 9 Juli 2026, pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat memperoleh dukungan dari pangkalan militer yang terletak di Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Arab Saudi. Beberapa sumber berita melaporkan bahwa pesawat pengisian bahan bakar milik UEA berpartisipasi dalam serangan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada Rabu dini hari.
Data pelacakan navigasi udara menunjukkan bahwa dua pesawat Multi Role Tanker Transport (MRTT) yang dioperasikan oleh UEA terlibat dalam operasi tersebut. Hingga saat ini, pemerintah UEA belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan ini. Laporan juga menyebutkan bahwa dalam Perang Ramadan, Iran berhasil menghancurkan pesawat pengisian bahan bakar dan pesawat peringatan dini udara (AWACS) milik Amerika Serikat di Pangkalan Al-Kharj, Arab Saudi.
Pusat pelacakan penerbangan Flightradar mencatat aktivitas pesawat pengisian bahan bakar yang berangkat dari Pangkalan Al Udeid, Qatar, terkait serangan Amerika Serikat pada Kamis dini hari. Menurut sumber militer, negara-negara seperti Qatar, UEA, Yordania, dan Arab Saudi memberikan dukungan logistik bagi penerbangan pesawat tempur Amerika Serikat selama 48 jam terakhir.
Fars News melaporkan bahwa serangan Amerika Serikat pada Kamis dini hari menyasar infrastruktur yang berkaitan dengan jaringan perkeretaapian dan industri minyak Iran. Serangan ini juga mencakup infrastruktur bandar udara di Chabahar dan kapal-kapal nelayan di Asaluyeh. Pakar keamanan Abdolreza Sediq mengungkapkan bahwa serangan ini merupakan pelanggaran terhadap Nota Kesepahaman Islamabad dan berpotensi mengalihkan perhatian dari partisipasi masyarakat dalam prosesi penghormatan pemimpin syahid Iran. Markas Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa dukungan terhadap militer Amerika Serikat akan dianggap sebagai sasaran yang sah bagi Angkatan Bersenjata Iran. Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menegaskan bahwa infrastruktur transportasi dan fasilitas minyak di negara-negara Arab akan dipandang sebagai sasaran dalam respons terhadap serangan terbaru ini.