Latar Media - Umar bin Khattab, seorang tokoh yang dikenal dengan pandangannya praktis, merasa terancam oleh kehadiran Islam yang dipandangnya berpotensi mengganggu ketertiban sosial di Mekah. Dalam upayanya mempertahankan dominasi kota tersebut, Umar tidak segan-segan menyiksa kaum muslim yang lemah.
Umar tumbuh di tengah masyarakat jahiliah yang sangat menghargai ketertiban dan kehormatan Mekah di mata bangsa Arab. Ketika Islam muncul, ia melihatnya sebagai ancaman terhadap stabilitas dan kekuatan sosial yang sudah mapan. Ketidaksukaannya terhadap kelemahan juga tercermin dalam pandangannya terhadap pemuda yang tidak produktif, serta bagaimana ia menanggapi pergerakan pengikut Nabi Muhammad yang semakin berkembang.
Pada awal kerasulan Nabi Muhammad, Umar berperan aktif dalam menekan pengikut Islam, terutama dengan menyasar kaum duafa yang tidak memiliki perlindungan politik. Namun, meskipun kekerasan yang dilakukannya, para pengikut Islam menunjukkan ketahanan luar biasa, bahkan mengorbankan tanah air demi mempertahankan keyakinan mereka. Keberangkatan mereka ke Abisinia sebagai bentuk migrasi massal menggugah kesadaran Umar akan masalah yang ada di Mekah.
Umar mulai mempertimbangkan ulang tindakannya setelah melihat imigrasi besar-besaran ini sebagai ancaman bagi kedudukan Mekah. Di tengah situasi tersebut, ia merasakan keruntuhan ikatan sosial dan kekerabatan akibat tindakan keras yang dilakukannya. Melalui proses refleksi yang mendalam, Umar akhirnya menyadari bahwa Islam bukan sekadar ancaman, melainkan sebuah kekuatan yang bisa membawa ketertiban dan keadilan bagi masyarakatnya. Transformasi ini menjadikannya sebagai pilar penopang kedaulatan Islam, berbalik dari penindas menjadi pelindung bagi pengikut Nabi Muhammad.