Latar Media - Penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, telah memicu berbagai spekulasi dan asumsi di kalangan masyarakat. Kasus ini mencuat setelah Andrie Yunus menyelesaikan rekaman siniar berjudul "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia" pada malam kejadian.
Peristiwa penyiraman air keras ini terjadi setelah Andrie Yunus menyelesaikan rekaman siniar tersebut. Kata "remiliterisme" dalam konteks rekaman tersebut langsung menimbulkan kecurigaan bahwa TNI mungkin terlibat dalam insiden ini. Hal ini menunjukkan bagaimana proses kognitif manusia berfungsi, di mana informasi awal dapat membentuk pemahaman dan asumsi yang cepat.
Kejadian ini menimbulkan kepanikan dan ketakutan di kalangan publik. Proses berpikir yang linear dan terfokus pada spekulasi mengenai keterlibatan TNI menjadi dominan. Masyarakat cenderung terjebak dalam anchoring bias, yang membuat mereka sulit untuk mengoreksi asumsi awal yang telah terbentuk.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, banyak individu mengalami vicarious trauma, hanya dengan menyaksikan insiden tersebut melalui media. Proses kognitif masyarakat mengalami penyempitan, di mana mereka hanya berfokus pada narasi negatif seputar TNI, menutup kemungkinan untuk mempertimbangkan pandangan lain.