Latar Media - Meski serangan militer Israel di Jalur Gaza terus berlangsung, perhatian dunia terhadap isu ini semakin memudar. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa otoritas pendudukan Israel semakin leluasa melakukan tindakan tanpa pengawasan internasional.
Kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani beberapa bulan lalu tak menghentikan serangan udara Israel. Serangan ini justru semakin intensif dengan pembunuhan yang terus berlanjut, perluasan area pendudukan, serta penurunan bantuan logistik dan medis.
Beberapa hari terakhir terjadi eskalasi serangan yang signifikan. Serangan artileri dan bom menghantam berbagai lokasi di Gaza, termasuk sebuah apartemen yang menewaskan satu keluarga utuh. Rumah Sakit Al-Shifa melaporkan telah menerima jasad satu keluarga tersebut, di antara 11 orang yang tewas pada hari yang sama. Data kesehatan resmi mencatat total korban jiwa akibat pelanggaran gencatan senjata kini mencapai 1.144 orang, dengan 3.703 lainnya luka-luka.
Pelanggaran kesepakatan juga terlihat dalam perluasan wilayah kontrol militer Israel, yang kini telah mencapai lebih dari 60% dari total wilayah Gaza. Meskipun kesepakatan awal menetapkan batasan, pemerintah Israel mengumumkan niat untuk memperluas pencaplokan hingga 70%.
Krisi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk, dengan bantuan pangan dan obat-obatan yang semakin menipis. Kementerian Pembangunan Sosial Palestina memperingatkan tentang krisis ketahanan pangan yang parah, di mana 77% warga Gaza hidup dalam kerawanan pangan kritis. Di sisi lain, serangan terhadap institusi keamanan sipil berpotensi menciptakan kekacauan di tengah situasi yang sudah sulit.
Menanggapi kurangnya perhatian dunia, sejumlah aktivis meluncurkan kampanye digital dengan tagar #Kadzabu_Alaikum untuk memperingatkan bahwa permasalahan di Gaza belum usai. Salah satu juru bicara mengungkapkan bahwa gencatan senjata yang ada tidak menghentikan penderitaan warga Gaza yang masih berlanjut setiap hari.