Latar Media - Sore ini di jalanan Bandung, niat hati mengayuh pedal berburu takjil berujung pada kejutan kecil: ban sepeda tiba-tiba meletus. Langkah terhenti paksa di atas aspal, tepat ketika dahaga sedang berada di puncaknya.
Sebagai pendaki, kejutan semacam ini sejatinya bukan hal baru. Di gunung, kita terbiasa menghadapi cuaca yang mendadak buruk atau jalur yang tertutup pohon tumbang. Karena tanjakan curam belum bisa dijamah selama puasa, rutinitas bersepeda ini awalnya adalah cara saya mengalibrasi mimpi menyelesaikan Seven Summits Indonesia menjadi sebuah active recovery. Tapi hari ini, semesta sepertinya meminta saya memutar kemudi untuk beristirahat lebih awal.
Ketika kayuhan fisik harus menepi, perjalanan rupanya tidak berhenti ia hanya berpindah jalur menuju ruang karya. Akhir pekan di bulan Ramadan akhirnya menemukan ritmenya sendiri di dalam kamar: merangkai footage video untuk media sosial, menulis bait-bait cerita, menelusuri lembar demi lembar buku, hingga membiarkan pikiran mengembara ditemani obrolan dari podcast.
Menariknya, di tengah keheningan menjahit video dan merangkai lirik lagu itu, ingatan saya seringkali terbang jauh melampaui padatnya kota. Layar laptop seakan membawa saya kembali pada masa-masa menyusuri lebatnya hutan di gunung. Hobi mendaki itu kini bertransformasi menjadi ekspedisi visual yang saya hidupkan kembali lewat konten dan tulisan.
Roda sepeda boleh saja berhenti berputar sore ini, tapi mesin imajinasi dan kreativitas tetap menyala di putaran yang tenang. Hingga akhirnya azan maghrib berkumandang, dan dahaga tuntas oleh segelas air kelapa serta tiga biji kurma. Sebuah titik keseimbangan yang selalu melegakan.
Perjalanan tidak selalu mulus baik di jalur pendakian, di jalan raya, maupun dalam proses berkarya. Tapi dari sana kita belajar: jika satu jalan tertutup, rawatlah hobimu yang lain, dan nikmati jedanya.