Latar Media - Dosen Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Fransiskus Surdiasis, memberikan pemahaman tentang cara mengolah isu Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi liputan yang menarik bagi wartawan, pada Senin, 8 Juni 2026. Acara ini diikuti oleh 15 wartawan se-Indonesia yang merupakan penerima Journalism Fellowship on CSR Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan TBIG.
Dalam diskusi tersebut, Surdiasis menjelaskan bahwa CSR merupakan salah satu pilar penting dalam aktivitas perusahaan modern. Namun, media masih sering menganggap CSR sebagai urusan perusahaan semata, bukan sebagai masalah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap CSR di kalangan wartawan sering kali keliru, dengan anggapan bahwa CSR hanya sekadar bentuk kebaikan perusahaan. Surdiasis mengusulkan agar peliputan CSR dilakukan dengan cara yang lebih bermakna, mengaitkannya dengan konteks masalah dan kebutuhan masyarakat. Media seharusnya mengungkapkan arti penting setiap inisiatif CSR dalam isu sosial, budaya, dan ekonomi yang relevan.
Lebih lanjut, Surdiasis mengajak wartawan untuk menjadikan CSR sebagai urusan masyarakat dan tidak sekadar sebagai urusan perusahaan. Ia menekankan pentingnya sikap apresiasi dalam peliputan media terhadap CSR, yang dapat mendorong perkembangan inisiatif serupa serta memperbaiki dan mengembangkan implementasi program CSR.
Di akhir pertemuan, Surdiasis menekankan bahwa meliput CSR merupakan tanggung jawab media untuk mengamati persoalan serta perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Ia mengingatkan bahwa melalui peliputan CSR, media berkontribusi pada perubahan sosial dan mendorong partisipasi berbagai pihak dalam upaya perubahan tersebut.