Festival Perang Air 2026 Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Kepulauan Meranti
Hiburan

Festival Perang Air 2026 Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Kepulauan Meranti

Latar Media - INDUSTRY.co.id - Jakarta, Festival Perang Air 2026 di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, kembali membuktikan diri sebagai salah satu event unggulan daerah yang mampu menggerakkan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat. Kegiatan yang menjadi bagian dari program Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata ini sukses menarik ribuan wisatawan serta meningkatkan aktivitas ekonomi lokal.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kementerian Pariwisata, Vinsensius Jemadu, menyampaikan bahwa terpilihnya Festival Perang Air dalam KEN 2026 merupakan hasil seleksi ketat terhadap lebih dari 500 event dari 38 provinsi di Indonesia. Proses kurasi dilakukan secara independen oleh tim profesional dengan indikator penilaian yang komprehensif, mencakup ide dan konsep, manajemen penyelenggaraan, tata kelola keuangan, strategi pemasaran dan komunikasi, serta dampak ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

“Masuknya Festival Perang Air dalam 125 Karisma Event Nusantara adalah prestasi bersama masyarakat Kepulauan Meranti. Ini bukti bahwa tradisi lokal mampu naik kelas menjadi panggung nasional,” kata Vinsensius dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).

Festival Perang Air 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan Imlek resmi ditutup pada Sabtu (21/2/2026), setelah selama sepekan memeriahkan Jalan Ahmad Yani, jantung Kota Selatpanjang. Ribuan warga dan wisatawan larut dalam kemeriahan tradisi tahunan tersebut.

Setiap hari, masyarakat yang berkeliling menggunakan becak maupun yang berdiri di sepanjang jalan saling menyiram air dan melempar balon berisi air dalam suasana penuh kegembiraan. Tawa dan canda menyatu tanpa sekat, menciptakan ruang kebersamaan yang hangat di tengah perayaan.

Tradisi ini berakar dari kebiasaan masyarakat Selatpanjang saat merayakan Imlek. Dahulu, warga yang pulang dari perantauan berkeliling mengunjungi sanak saudara menggunakan becak, kerap bersama anak-anak. Dalam perjalanan silaturahmi itu, anak-anak saling bercanda dengan melempar air ketika berpapasan dengan rombongan lain. Tradisi sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi perayaan kolektif yang mempererat persaudaraan.

Seiring waktu, Festival Perang Air menjelma menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu di Meranti. Dari tradisi lokal yang sarat makna kebersamaan, festival ini kini menjadi atraksi wisata tahunan berskala nasional yang membanggakan.

Momentum Imlek dan Festival Perang Air tahun ini mencatat pergerakan penumpang masuk ke Kabupaten Kepulauan Meranti sebanyak 20.475 orang, meningkat 1,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan mobilitas tersebut berdampak pada naiknya okupansi penginapan, aktivitas transportasi laut, pertumbuhan sektor kuliner, serta perputaran transaksi UMKM lokal, termasuk produk unggulan seperti sagu dan berbagai olahannya.

Sebagai bagian dari KEN 2026, Festival Perang Air tidak hanya menghadirkan atraksi budaya unik, tetapi juga memperkuat citra Meranti sebagai daerah yang aman, tertib, inklusif, dan kaya tradisi. Keberadaannya menegaskan posisi Kepulauan Meranti sebagai wilayah perbatasan strategis di tepian Selat Malaka dengan kekuatan budaya sebagai daya tarik wisata unggulan.

“Tantangan berikutnya adalah menjaga standar kualitas penyelenggaraan serta memastikan dampak ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan benar-benar dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” kata Vinsensius.

Melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Festival Perang Air menjadi bukti bahwa kekayaan tradisi mampu menjadi motor penggerak pariwisata nasional sekaligus memperkuat identitas Indonesia di kawasan perbatasan.

You can share this post!