Latar Media - Diskusi #HorrorPanasBumi yang diselenggarakan oleh Magdalene mengungkap beban yang ditanggung perempuan terkait transisi energi, terutama dalam konteks pembangunan geotermal di Indonesia. Acara ini melibatkan pakar dari organisasi masyarakat sipil yang mengamati isu transisi energi dan berlangsung di Jakarta.
Diskusi ini merupakan lanjutan dari liputan khusus Magdalene mengenai pembangunan geotermal di tiga wilayah. Di tengah upaya pemerintah untuk mempromosikan energi bersih dan ramah lingkungan, terdapat aspek keadilan yang sering kali terlupakan, di mana perempuan menjadi salah satu kelompok paling rentan terdampak. Tema ini menjadi fokus utama dalam diskusi.
Editor in Chief Magdalene, Devi Asmarani, menjelaskan bahwa pembahasan transisi energi biasanya hanya berfokus pada peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, tanpa mempertimbangkan dimensi keadilan. Diskusi ini bertujuan untuk menyoroti dampak transisi energi dari perspektif perempuan yang seringkali menanggung beban terberat akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.
Dini Pramita dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menekankan perlunya memeriksa klaim pemerintah mengenai emisi karbon dan dampak sosial-ekologis dari proyek geotermal. Ia menyatakan bahwa biaya ekologis dan sosial yang harus ditanggung warga jarang diungkap secara transparan oleh perusahaan. Peneliti CELIOS, Lila Puspitaningrum, menambahkan bahwa transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pembangkit listrik yang dikategorikan 'hijau', tetapi juga melibatkan risiko yang perlu diperhatikan.
Menurut Dini, liputan Magdalene menunjukkan adanya pola berulang di berbagai proyek geotermal yang berdampak pada perempuan, mulai dari perubahan bentang alam hingga akses terhadap sumber daya penting seperti air. Ia mengapresiasi upaya Magdalene yang berhasil menyoroti persoalan struktural dalam pelaksanaan transisi energi di Indonesia, dengan fokus pada pengalaman perempuan yang hidup di sekitar proyek geotermal. Temuan ini juga menegaskan bahwa dampak negatif dari proyek ini cenderung lebih dirasakan oleh perempuan, yang sering kali diabaikan dalam proses pengambilan keputusan terkait pembangunan.