Latar Media - RRI.CO.ID, Madiun - Di tengah maraknya camilan modern, kue tradisional ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat. Hal itu dibuktikan oleh Riza Kurniasari, seorang pebisnis muda di Madiun yang sukses mengembangkan usaha kembang goyang, salah satu jajanan jadul yang kini kembali digemari.
Menariknya, sebelum menekuni usaha tersebut, Riza pernah bekerja di salah satu perbankan. Namun ia memutuskan untuk beralih menjadi pengusaha kuliner tradisional.
Menurut Riza, keputusan tersebut tidak mudah karena bekerja di kantor memberikan penghasilan tetap setiap bulan. Sementara itu, membangun usaha sendiri membutuhkan keberanian dan kesabaran karena penghasilannya tidak langsung stabil.
“Kalau kerja di kantor kan pendapatan sudah jelas setiap bulan. Saat mulai usaha ini sempat kaget juga karena harus jatuh bangun di awal” ungkap Riza saat menjadi narasumber di Muda Kreatif Pro 2.
Meski demikian, ia tetap menjalani usaha tersebut dengan tekun hingga akhirnya memutuskan fokus penuh pada bisnis kembang goyang.
Inspirasi usaha ini sebenarnya berawal dari kecintaannya terhadap makanan tradisional. Sejak dulu, Riza mengaku selalu mencari kue kembang goyang setiap kali menghadiri acara keluarga atau hajatan.
“Kalau ada acara atau hajatan, yang pertama saya cari itu pasti kembang goyang. Saya memang suka makanan jadul,” katanya.
Awalnya, sang ibu membuat kue tersebut hanya untuk kebutuhan keluarga, termasuk saat acara pernikahannya. Dari situ, Riza mulai tertarik mencoba membuatnya sendiri.
Namun saat itu ia belum mengetahui resep yang pasti. Ia hanya membantu proses pembuatan tanpa benar-benar memahami komposisi bahan yang digunakan. Kesempatan untuk belajar lebih serius datang saat pandemi melanda. Saat itu Riza harus berhenti dari pekerjaannya dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
“Waktu pandemi saya keluar dari pekerjaan dan bingung harus melakukan apa. Akhirnya saya membantu ibu membuat kembang goyang dan mulai belajar dari situ” jelasnya.
Sejak saat itu, Riza kemudian mulai bereksperimen dengan resep. Jika umumnya kembang goyang menggunakan tepung beras, ia mencoba menggantinya dengan campuran tepung terigu dan tepung kanji.
“Kalau pakai tepung beras biasanya lebih keras. Saya coba pakai tepung terigu dan kanji, ternyata hasilnya lebih renyah tapi tidak keras,” jelasnya.
Bagi Riza, kunci membuat kembang goyang bukan hanya resep, tetapi juga ketelatenan saat menggoreng menggunakan cetakan khusus. “Prosesnya sebenarnya tidak rumit, tapi harus telaten. Kalau tidak fokus bisa gagal bentuknya,” katanya.
Dengan harga mulai dari Rp 10.000, kini usaha kembang goyang miliknya semakin dikenal dan banyak dipesan, terutama menjelang Lebaran. Banyak pelanggan yang memesan sebagai isi toples kue karena rasa tradisionalnya yang mengingatkan pada masa kecil. Untuk pemasaran produk masih dilakukan secara sederhana melalui media sosial dan pesan WhatsApp. Penjualan juga masih terbatas di wilayah Madiun.
Namun ke depan, Riza berharap usahanya dapat berkembang dengan memiliki tempat produksi sendiri, tambahan alat, serta tenaga kerja.