Catvertising: Kucing Jadi Magnet Perhatian dalam Strategi Pemasaran
Teknologi

Catvertising: Kucing Jadi Magnet Perhatian dalam Strategi Pemasaran

Latar Media - Kucing menjelma menjadi bintang panggung dalam konten promosi merek untuk menaklukkan algoritma.

Di tengah banjir konten digital yang membuat perhatian menjadi komoditas paling langka, merek kini menghadapi tantangan baru: bukan lagi bagaimana menyampaikan pesan, tetapi bagaimana memastikan pesan tersebut sempat diperhatikan.

Dalam lanskap ini, strategi kreatif semakin bergeser menuju elemen yang mampu memicu respons emosional instan. Salah satu pendekatan yang semakin dominan adalah penggunaan hewan peliharaan, terutama kucing, dalam komunikasi merek lintas kategori. Fenomena yang kemudian dikenal sebagai catvertising ini tidak lagi sekadar tren visual atau gimmick kreatif, melainkan respons terhadap cara algoritma dan perilaku audiens digital bekerja saat ini.

Analisis media sosial menunjukkan bahwa konten dengan hewan peliharaan secara konsisten menghasilkan tingkat komentar, share, dan save lebih tinggi dibanding format lain. Dalam praktiknya, kucing berfungsi sebagai pemicu perhatian awal, sebuah attention hook yang menghentikan scroll sebelum audiens memutuskan apakah mereka akan berinteraksi lebih jauh dengan sebuah pesan merek.

Namun meningkatnya penggunaan kucing dalam komunikasi pemasaran juga memunculkan pertanyaan strategis baru: apakah perhatian yang diperoleh benar-benar memperkuat merek, atau justru berhenti pada karakter yang tampil di layar?

Pendongkrak performa digital sekaligus distraksi potensial

Data yang dikutip Marketing Gazette, berdasarkan riset NewsWhip dan Nichefire, menunjukkan bahwa iklan dengan karakter kucing mampu meningkatkan jumlah penayangan YouTube hingga 2.700% dibanding rata-rata kanal. Di Instagram, sekitar 34% akun memanfaatkan kucing untuk meningkatkan engagement, menghasilkan lonjakan pencarian kolektif hingga 123 juta. Bahkan pencarian Google untuk konten kucing lucu meningkat 37%.

Angka-angka ini menjelaskan mengapa semakin banyak merek menjadikan kucing sebagai elemen kreatif utama.

Rima Sjoekri, Senior Consultant Mediasense, menyebut kucing sebagai jalan pintas emosional yang dapat bekerja hampir di semua kategori produk. Menurutnya, algoritma media sosial secara alami berpihak pada konten yang memicu reaksi spontan, dan kucing hampir selalu memenuhi kriteria tersebut.

Pandangan serupa disampaikan Margaretha "Margie" Untoro, Head of Commercial & Marketing MDA Restaurants. “Media sosial dibesarkan oleh konten kucing, dari meme klasik sampai selebgram kucing dengan jutaan followers. Begitu ada kucing, mayoritas orang akan stop scrolling dan menontonnya,” ujarnya. Ia mengakui bahwa ketika menemukan konten kucing yang sangat menggemaskan, dorongan untuk membagikannya kepada orang lain sering kali muncul secara otomatis.

Di Indonesia, momentum ini semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Kucing tidak lagi berfungsi sebagai pemanis visual, melainkan attention magnet yang membuka ruang bagi pesan merek untuk masuk.

Shopee, misalnya, memanfaatkan karakter kucing oyen dalam berbagai konten absurd seperti interaksi chat Nego Neko. Gojek menghadirkan maskot si Meong dengan slogan “MAW MAW”, sementara Pop Mie memperkenalkan Kucing O’Ranger dalam kampanye “ Lapeer Kepepet ”, karakter yang bahkan terinspirasi dari kucing pribadi Direktur Indofood, Axton Salim.

Namun di balik performa tinggi tersebut, Rima menemukan pola keterlibatan yang menarik. “Bagian komentar biasanya dipenuhi dengan reaksi terhadap kucing itu sendiri, di luar produk. Beberapa bahkan menyebutkan minat mereka untuk membeli produk karena kucing tersebut,” ungkapnya.

Temuan ini memperlihatkan paradoks baru dalam komunikasi digital. Engagement dapat meningkat signifikan, tetapi perhatian audiens belum tentu berpindah sepenuhnya kepada merek.

Mengapa kucing begitu relevan bagi audiens Indonesia

Efektivitas catvertising di Indonesia tidak hanya dipengaruhi algoritma, tetapi juga konteks sosial dan budaya yang lebih luas.

Dalam masyarakat Muslim, kucing dipandang sebagai hewan yang bersih dan diterima secara religius. Margie menilai faktor ini menjadikan kucing sebagai simbol yang relatif aman untuk komunikasi mass market, berbeda dengan hewan lain yang berpotensi menimbulkan sensitivitas tertentu.

Urbanisasi turut memperkuat relevansi tersebut. Di lingkungan apartemen dan ruang hidup terbatas, kucing menjadi pilihan hewan peliharaan yang realistis bagi kelas menengah urban. Representasinya terasa dekat dengan keseharian audiens yang menjadi target banyak merek.

Pada saat yang sama, budaya meme lokal mempercepat adopsi karakter kucing dalam komunikasi digital. Figur “kucing oyen” yang chaotic dan sulit diprediksi telah berkembang menjadi bahasa humor kolektif internet Indonesia. Ketika merek mampu menangkap humor ini secara organik, peningkatan engagement tidak hanya terjadi secara kuantitatif, tetapi juga dalam percakapan dan persepsi publik.

Dari fenomena budaya menuju aset merek

Popularitas kucing dalam budaya digital sebenarnya bukan fenomena baru. Dari simbol religius di Mesir kuno hingga representasi dalam seni populer seperti poster Le Chat Noir dan karakter kucing dalam Breakfast at Tiffany’s, kucing telah lama hadir sebagai figur budaya.

Namun era digital mempercepat transformasi tersebut. Rima menyoroti kemunculan Grumpy Cat pada 2012 sebagai titik penting, ketika karakter kucing pertama kali menjadi internet influencer global. Ekspresi wajah yang konsisten membuatnya mudah diadaptasi menjadi berbagai meme yang merepresentasikan emosi kolektif pengguna internet.

“Meme-nya menciptakan koneksi emosional yang cepat dan mudah dibagikan. Hal ini yang dibutuhkan pengiklan saat bersaing untuk mendapatkan perhatian,” jelas Rima.

Di Indonesia, fenomena serupa terlihat pada Bobby Kertanegara, kucing milik Presiden Prabowo Subianto, yang telah mengumpulkan hampir satu juta pengikut di Instagram. Menurut Rima, angka tersebut cukup untuk menjadikannya figur “First Cat” Indonesia, menunjukkan bagaimana karakter kucing dapat membangun audiens layaknya figur publik.

Menuju titik jenuh atau justru fase baru?

Secara global, tren catvertising sempat mengalami kejenuhan ketika penggunaan kucing berhenti pada level visual semata. Ketika terlalu banyak merek menggunakan pendekatan serupa, diferensiasi menjadi semakin sulit.

Indonesia tampaknya belum memasuki fase tersebut. Audiens lokal masih sangat partisipatif, aktif menciptakan turunan meme dan percakapan baru dari karakter yang muncul dalam iklan.

Namun tantangan berikutnya mulai muncul, terutama dengan meningkatnya penggunaan AI dalam produksi konten.

Rima mengingatkan bahwa antropomorfisme berlebihan dapat menghilangkan daya tarik utama kucing itu sendiri. “Audiens dapat merasakan ketika perilaku kucing terasa asli versus dibuat-buat. Jadi hindari terlalu memanusiakan mereka seperti yang kita lihat di banyak iklan kucing yang dihasilkan AI. Ketika kucing mulai bertindak, berbicara, menari, bergerak dalam bentuk dan karakter manusia yang sadar, mereka tidak lagi relatable untuk audiens,” tuturnya.

Margie menambahkan bahwa keberlanjutan catvertising bergantung pada integrasi strategis. Jika kucing hanya ditempel demi mengejar angka engagement, audiens akan cepat melihatnya sebagai gimmick. Namun ketika dikembangkan sebagai karakter, maskot, atau simbol nilai merek, ia berpotensi menjadi aset storytelling jangka panjang.

Pada akhirnya, pertanyaan bagi merek bukan lagi apakah audiens menyukai kucing. Pertanyaannya adalah apakah perhatian yang dihasilkan mampu diterjemahkan menjadi asosiasi merek yang bertahan.

Dalam ekonomi perhatian yang semakin kompetitif, kucing mungkin mampu menghentikan scroll. Tetapi hanya strategi merek yang kuat yang memastikan audiens mengingat siapa yang berbicara setelah mereka berhenti menonton.

You can share this post!