Latar Media - RRI.CO.ID, Tanjung Selor - Pemerataan pembangunan di Kabupaten Bulungan kembali menjadi sorotan. Di tengah luas wilayah geografis yang menantang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan mengakui masih ada desa hingga RT terpencil yang belum sepenuhnya tersentuh program pembangunan.
Bupati Bulungan, Syarwani, menyampaikan belum seluruh wilayah, terutama di tingkat RT, dapat langsung merasakan dampak pembangunan.
Ia memastikan sebagian besar program daerah sudah menjangkau mayoritas kawasan di Bulungan.
“Ini memang tantangan kita. Kami menyadari belum semua desa, apalagi RT, bisa langsung tersentuh. Tetapi kami meyakini program-program yang berjalan sudah menjangkau sebagian besar wilayah Bulungan,” ujarnya, belum lama ini.
Menurutnya, persoalan infrastruktur masih menjadi kebutuhan paling mendesak, khususnya di wilayah pedalaman. Salah satu yang mencuat adalah kondisi jalan poros Ilanun menuju Long Buah di hulu Sungai Kayan yang sempat ramai dikeluhkan warga melalui media sosial.
Keluhan tersebut, kata dia, langsung menjadi perhatian serius pemerintah daerah bersama jajaran teknis. Tahun ini, penanganan jalan di Ilanun direncanakan masuk tahap intervensi melalui program pengaspalan yang didukung Kementerian dan Dinas Pekerjaan Umum.
“Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa kita intervensi. Untuk Ilanun ada program pengaspalan dari kementerian melalui Dinas PU. Di perubahan anggaran nanti kita harapkan bisa dilanjutkan sampai menjawab harapan masyarakat menuju Long Buah,” tegasnya.
Di sisi lain, Syarwani memastikan saat ini tidak ada lagi desa berstatus tertinggal di Bulungan.
Namun ia menekankan, perubahan status tersebut bukan berarti seluruh persoalan di desa telah tuntas.
“Indikator desa tertinggal atau terisolir itu ada variabelnya. Tapi bukan berarti setelah status itu tidak ada, lalu persoalan selesai. Di setiap desa masih ada yang harus kita tangani,” katanya.
Selain infrastruktur jalan, persoalan blank spot atau keterbatasan akses komunikasi juga masih menjadi pekerjaan rumah. Sejak 2025, Pemkab Bulungan telah membangun sekitar 28 unit stasiun pemancar untuk memperluas akses layanan komunikasi di desa-desa.
Program tersebut dipastikan berlanjut pada 2026.
Tantangan geografis juga terlihat di Desa Telanjau, yang memiliki RT Berlun berjarak sekitar dua jam perjalanan dari pusat desa dan hanya bisa diakses melalui jalur sungai.
Meski fasilitas sekolah dan pos pelayanan kesehatan telah tersedia, aksesibilitas masih menjadi kendala utama warga. Pemerintah daerah menegaskan akan terus melakukan pemetaan kebutuhan dan intervensi secara bertahap.
"Ini agar pemerataan pembangunan tidak hanya menjadi target di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat hingga wilayah terjauh Kabupaten Bulungan," tutur bupati. (rln/sti)