Bakohumas GPR Outlook 2026: Memperkuat Strategi Komunikasi Publik di Era Disinformasi
Teknologi

Bakohumas GPR Outlook 2026: Memperkuat Strategi Komunikasi Publik di Era Disinformasi

Latar Media - [Siaran Pers] Bakohumas GPR Outlook 2026 Perkuat Komunikasi Publik Hadapi Disinformasi Digital

: Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Haryo Damardono (tengah) dan Direktur Komunikasi PT Indonesia Indicator, Rustika Herlambang (kanan) menjadi narasumber pada acara Forum Government Public Relations (GPR) Outlook 2026 yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Badan Koordinasi Humas (Bakohumas), di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (4/2/2026). Forum GPR Outlook 2026 menjadi ruang konsolidasi insan kehumasan pemerintah untuk menyatukan arah komunikasi nasional, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta membangun reputasi negara secara konsisten di tengah tantangan disrupsi informasi digital. Foto: InfoPublik/Amiri Yandi

Oleh Putri, Kamis, 5 Februari 2026 | 10:33 WIB - Redaktur: Putri - 756

Siaran Pers Kementerian Komdigi

Rabu, 4 Januari 2026

tentang

Bakohumas GPR Outlook 2026 Perkuat Komunikasi Publik Hadapi Disinformasi Digital

Jajaran kehumasan pemerintah pusat dan daerah yang terhimpun dalam Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) diminta meningkatkan kecepatan sekaligus ketepatan komunikasi publik di tengah derasnya arus disinformasi di ruang digital.

Penegasan tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid saat memberikan sambutan dalam Forum Bakohumas "GPR Outlook 2026: Satu Narasi, Bangun Reputasi Negeri" di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Menurut Meutya Hafid, di era digital pemerintah tidak lagi memiliki ruang untuk hanya mengutamakan ketepatan tanpa kecepatan, karena keterlambatan respons komunikasi justru memberi peluang bagi misinformasi membentuk persepsi publik. “Sekarang tidak bisa lagi memilih antara cepat atau tepat. Keduanya harus berjalan bersamaan. Ketika kita kalah cepat, disinformasi masuk, dan pada akhirnya yang sampai ke masyarakat juga menjadi tidak tepat,” tegas Menkomdigi.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan komunikasi pemerintah tidak ditentukan oleh seberapa baik pesan disusun, melainkan oleh apa yang benar-benar diterima dan dipahami masyarakat. “Yang dinilai publik bukan seindah apa rilis kita, tapi apa yang sampai ke masyarakat. Kalau ruang publik sudah dipenuhi misinformasi, komunikasi yang benar bisa tenggelam,” ujar dia.

Senada dengan pernyataan Menkomdigi, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Dirjen KPM Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya, dalam kesempatan yang sama menilai tantangan komunikasi pemerintahan saat ini semakin kompleks karena persepsi publik dapat terbentuk dalam hitungan menit, bahkan sebelum klarifikasi resmi disampaikan.

"Di era digital, reputasi sering kali runtuh bukan karena kebijakan itu sendiri, tetapi karena cerita yang lebih dulu dipercaya publik. Karena itu, pemerintah tidak boleh membiarkan narasi berjalan sendiri tanpa arah," kata Fifi.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa konsep satu narasi bukan berarti keseragaman pesan, melainkan kesamaan arah komunikasi yang saling menguatkan antarinstansi. “Satu narasi artinya bergerak ke tujuan yang sama, saling menguatkan, bukan saling meniadakan,” jelas Dirjen KPM Kemkomdigi.

Forum Bakohumas GPR Outlook 2026 itu dihadiri lebih dari 500 peserta dari Kepala Biro Humas dan pranata humas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD, serta menghadirkan dua narasumber dalam sesi diskusi yakni Direktur Komunikasi PT Indonesia Indicator Rustika Herlambang, serta Pemimpin Redaksi Harian Kompas Haryo Damardono.

Dua narasumber tersebut membahas sejumlah tema seperti "Strategi Humas Pemerintah Mengatasi Perang Narasi dan Disrupsi di Ruang Digital" dan "Transformasi Peran Humas dari Pembuat Rilis menjadi Manajer Reputasi Berbasis Data".

Direktur Komunikasi PT Indonesia Indicator, Rustika Herlambang, mendorong transformasi humas pemerintah dari pola reaktif dan defensif menjadi lebih proaktif, strategis, dan visioner. “Humas pemerintah harus bertransformasi menjadi arsitek reputasi bangsa, bukan sekadar penyampai informasi,” ujarnya dalam sesi diskusi Forum Bakohumas GPR Outlook 2026.

Pandangan serupa disampaikan Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Haryo Damardono. Ia menilai perubahan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, menuntut insan kehumasan untuk terus beradaptasi dan memperkuat kolaborasi. "Perubahan berlangsung sangat cepat. Tidak ada satu solusi tunggal. Yang penting kita terus belajar dan beradaptasi bersama," katanya.

Forum itu bertujuan mensinergikan komunikasi publik, menyebarkan kebijakan pemerintah, meningkatkan transparansi informasi, memperkuat kolaborasi, menyamakan persepsi serta meningkatkan kualitas layanan informasi publik.

Fungsi Utamanya adalah sebagai tempat berbagi strategi, data, dan pengalaman antarhumas pemerintah agar informasi yang disampaikan ke masyarakat selaras (beresonansi).

Forum itu juga menjadi momentum penguatan peran kehumasan pemerintah dalam menjaga kepercayaan publik serta membangun reputasi Indonesia di tengah dinamika komunikasi digital yang semakin kompleks.

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber infopublik.id

You can share this post!