AJI Palembang dan Yayasan Mitra Hijau Latih Jurnalis dalam Peliputan Transisi Energi
Sumber Foto: Mattanews.co
Konteks Liputan

AJI Palembang dan Yayasan Mitra Hijau Latih Jurnalis dalam Peliputan Transisi Energi

Palembang – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang baru saja menyelenggarakan pelatihan bertajuk "Jurnalisme Energi, Pendalaman Isu dan Penguatan Hasil Liputan di Media Sosial" di Fave Hotel Palembang pada Jumat, 1 Agustus 2025. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dengan Yayasan Mitra Hijau dan diikuti oleh 30 jurnalis yang berasal dari berbagai media, termasuk media cetak, daring, radio, serta komunitas jurnalis di Sumatera Selatan.

Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai isu-isu energi, khususnya dalam konteks transisi energi yang adil dan berkelanjutan. Selama satu hari penuh, peserta mendapatkan materi substantif dan pelatihan praktik guna memperkuat kemampuan mereka dalam meliput topik ini.

Ketua AJI Palembang, M Fajar Wiko, dalam sambutannya menekankan bahwa transisi energi lebih dari sekadar peralihan dari batu bara ke energi terbarukan. "Ini berkaitan dengan nasib ekonomi lokal, konflik lahan, lingkungan hidup, serta masa depan pekerja. Jurnalis perlu menggali dan mengedukasi publik mengenai berbagai aspek ini," ujarnya.

Narasumber dan Materi Pelatihan

Pelatihan menghadirkan tiga narasumber utama: Dr. Doddy S. Sukadri selaku Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Hijau, Hari Wibawa dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumsel, dan Yudi Thirzano, Pemimpin Redaksi Tribun Sumsel.

Dr. Doddy memaparkan dampak nyata perubahan iklim global yang sudah terlihat di Indonesia. Ia menekankan pentingnya mitigasi dan adaptasi berbasis riset, kebijakan, dan partisipasi masyarakat. Sementara itu, Hari Wibawa menjelaskan bahwa Sumatera Selatan masih sangat bergantung pada energi fosil, terutama batubara, yang menyumbang sekitar 24% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) namun hanya menyerap 2,26% tenaga kerja.

"Pemerintah daerah telah menyusun kebijakan transisi energi, tetapi kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan media sangat diperlukan," tegas Wibawa.

Yudi Thirzano menambahkan bahwa liputan mengenai transisi energi harus tajam dan kontekstual. "Liputan energi bukan hanya soal data produksi, tetapi juga mengenai dampak terhadap masyarakat, lingkungan, dan keadilan distribusi energi," ungkapnya.

Diskusi dan Workshop

Setelah sesi pemaparan, peserta mengikuti diskusi kelompok dan workshop penyusunan ide liputan. Mereka juga dilatih untuk memperkuat distribusi hasil liputan melalui media sosial agar pesan-pesan penting mengenai transisi energi dapat mencapai audiens yang lebih luas.

Fasilitator kelas jurnalisme, Tasmalinda, menekankan bahwa transisi energi di Sumatera Selatan adalah hal yang tidak bisa dihindari dan harus dikelola secara adil. Menurutnya, potensi energi baru dan terbarukan (EBT) di provinsi ini mencapai 21.032 MW, tetapi yang telah terpasang baru sekitar 4,8%.

"Hal ini menunjukkan perlunya akselerasi pemanfaatan EBT melalui dukungan kebijakan, pendanaan, teknologi, serta keterlibatan media," tutup Tasmalinda.